Tokoh-tokoh Bahasa dan Sastera di Nusantara

Bab 1.
Hamzah al-Fansuri

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 2.
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 3.
Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Munsyi Abdullah)

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 4.
IRR Raja Chulan

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 5.
Tun Sri Lanang

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 6.
Dr. Usman Awang

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 7.
Datuk A Samad Said

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 8.
Dr. Usman Awang

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 9.
Harun Aminurashid

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 10.
Keris Mas (Kamaluddin Muhammad)

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

Bab 11.
Pak Sako

•  Latarbelakang
•  Karya-karya

 

 

 

 

BAB I

Hamzah al-Fansuri

Latarbelakang

Hamzah Fansuri adalah tokoh ugama yang menggegarkan dunia melalui puisi-puisi sufinya. Menurut sastrawan Abdul Hadi MW, Hamzah Fansuri merupakan pencipta "syair Melayu" yang bercirikan puisi empat baris dengan pola sajak akhir "a-a-a-a". Bakatnya sebagai sastrawan besar terserlah dalam kemampuan dan kreativitinya merubah bahasa lama menjadi bahasa baru dengan cara memasukkan ratusan kata Arab, istilah konseptual dari Al Quran dan falsafah Islam. Bahasa ini kemudiannya menjadi sebagai bahasa intelektual yang dihormati sebab dapat menampung gagasan baru yang diperlukan pada zaman itu.

Peranan penting Hamzah al Fansuri dalam sejarah pemikiran dunia Melayu Nusantara bukan saja karena gagasan tasawufnya, tetapi puisinya yang mencerminkan pergelutan penyair menghadapi realiti zaman dan pengembaraan spiritualnya.

Salah satu karya penting dari Hamzah Fansuri adalah Zinat Al-Wahidin yang ditulis pada akhir abad ke-16 ketika perdebatan sengit tentang paham wahdat al-wujud sedang berlangsung dengan tegang di Sumatera. Teks ini diyakini oleh para peneliti sebagai kitab keilmuan pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu.

Hamzah Fansuri juga dikenal sebagai seorang pelopor dan pembaru melalui karya-karya Rubba al Muhakkikina, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Kritiknya yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja-raja, para bangsawan, dan orang-orang kaya, menempatkannya sebagai seorang intelektual yang berani pada zamannya.

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/01/tanahair/1552018.htm

Karya-karya

•  Zinat Al-Wahidin - ditulis pada akhir abad ke-16, kitab keilmuan pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu.

•  Syair Perahu

•  Syair Dagang

•  Rubba al Muhakkikina

 

BAB 2

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad

Sumber: http://www.riaulingga.com

Raja Ali Haji selain terkenal dengan karyanya Tuhfat al Nafis (sejarah Melayu) juga terkenal dengan berbagai karya lainnya baik politik, hukum maupun bahasa bahkan tiga karya besarnya di bidang bahasa menobatkannya sebagai Bapak Bahasa Indonesia yakni Gurindam Dua Belas (1847), Bustam al-Katibin (tata bahasa Melayu) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1851).

Ia mengatakan, Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan wujud konstribusi penting Raja Ali Haji di bidang bahasa sebab jika dalam dua karya lainnya (Gurindam Dua belas dan Bustam al-Katibin) ia lebih terfokus pada upaya mengetengahkan keprihatinan dan mengagas upaya awal untuk memperbaiki beberapa konsep dan tata bahasa Melayu.

"Sedangkan dalam Kitab Pengetahuan Bahasa ia secara tegas menghadirkan satu karya yang dirancang untuk menjadi rujukan  utama dalam bahasa Melayu," katanya seraya menambahkan dari berbagai jasanya itu maka sepantasnyalah pemerintah pusat menganugerahi Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional.

Latarbelakang

Raja Ali Haji lahir di Pulau Penyengat, pusat Kerajaan Riau Lingga, Johor dan Pahang  pada 1808 anak dari pasangan Raja Ahmad bin Raja Haji Fisabilillah dan Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara dan ayahnya Raja Ahmad merupakan tokoh penting dalam kerajaan Riau Lingga.

Datuknya Raja Haji Fisabilillah adalah "Yang Dipertuan IV" Kerajaan Riau Lingga dan seorang pahlawan yang termasyur keberaniannya dalam melawan Belanda sehingga tewas dalam peperangan di Teluk Ketapang pada 1874. Gelar "Raja" pada namanya diperoleh dari nama keturunan keluarga karena "Yang Dipertuan IV" merupakan kerabat Sultan Riau Lingga.

Setelah kematian Raja Ali Haji, dari Penyengat ini justru muncul 20-an pujangga yang diperkirakan langsung atau tidak langsung pernah berguru pada Raja Ali Haji. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, Aisyah Sulaiman, dan Abu Muhammad Adnan. Nama terakhir ini terlihat sangat subur yang bacaannya dalam berbagai bahasa seperti Arab dan Perancis sampai sekarang masih dapat dilihat.

Satu hal yang patut diingat, Raja Ali Haji tampil saat Kemaharajaan Melayu di Riau sudah berada pada posisi lemah. Ketika remaja, ia menyaksikan bagaimana kerajaan ini dipecah-belah menjadi dua bagian -bagian utara di bawah Inggris, sedangkan bagian selatan di bawah Belanda- melalui Traktat London 1824. Saat itu juga, nilai perdagangan Singapura yang setengah abad sebelumnya di bawah Riau, kini telah jauh meninggalkan induknya seiringan dengan kekalahan Riau melawan Belanda tahun 1784.

Kini orang pun kembali disadarkan bahwa berkat pekerjaan Raja Ali Haji, setidaknya Melayu tidak kehilangan marwah di tengah hantaman ekonomi kapitalis yang melanda bekas daerahnya, Singapura. Di tengah kesibukan Singapura membangun ekonomi, Riau pada saat itu juga yang disimbolkan Raja Ali Haji maju ke depan dengan bendera kebudayaan, di samping berusaha memperbaiki ekonomi. Dengan sendirinya, ia hadir pada setiap zaman. Lalu mampukah Hari Raja Ali Haji 1996 menangkap semangat kerja Raja Ali Haji dan lingkarannya itu untuk ditanamkan baik pada masa kini maupun masa mendatang?

Karya-karya

•  Tuhfat al Nafis

Haji Ali (Tengku Selat)  bin Raja Haji Muhammad (Tengku Nong ) presented a copy of the Tuhfat-al-nafis that he had personally transcribed - to the then retiring Dutch Resident General A.L. van Hasselt. This was a copy from the shorter version which was used by Virginia Matheson as her base text for her doctorate dissertation that was forwarded to Monash University , Australia in 1973.

In 1903 van Hasselt handed it to the KITLV library in Leiden .

This copy was catalogued by Ph. S. van Ronkel in 1937 under "Catalogus der Maleische Handschriften... VBG 57 1909".

Apart from this copy, there are three other copies in existence:

A copy that was given to W. Maxwell and transcribed in 1890.  This copy  received was from a certain Syamsudin bin Imam Musa of Kelang. Copy now in Royal Asiatic Society, London . 

A copy that was borrowed by A.C. Blagden from Tengku Fatimah binti Sultan Abu Bakar, Johor.  Richard Windstedt used this version to print a Jawi copy.

And another copy that is kept in the Dewan bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur . !!!

 

•  Gurindam Dua Belas (1847)

INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya. Amma ba'du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana telah ta'ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.

Syahdan

Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam. Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair.

Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini
Persamaan yang indah-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur


INI GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA

Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma'rifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat


INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji


INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi'il yang tidak senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi


INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih


INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai


INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi


INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencacat orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur

Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar


INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan

Ke'aiban orang jangan dibuka
Ke'aiban diri hendaklah sangka


INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru


INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH

Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil


INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai
Murahkan perangai


INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta


Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima Negeri Riau Pulau Penyengat

 

•  Bustam al-Katibin (tata bahasa Melayu)

•  Kitab Pengetahuan Bahasa (1851).

 

 

Khamus Loghat Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga hasilkarya.

Kitab pengetahuan bahasa, yang pertama dicetak oleh Al-Ahmadiah Press, Singapura pada 1345H/1927M.

Pengasas Ahmadiah Press (1903), Singapura dan Ahmadi & Co., Midai, Pulau Tujuh, Natuna, terdiri dari Raja Haji Ali (Tengku Selat) bin Raja Muhammad (Tengku Nong) - berserta beberapa kerabat diraja Riau.(Diantara zuriat zuriat anakanda beliau yang berada diSingapura ialah dari keluarga Raja Salman, Raja Halimah dan Raja Hajjah Fatimah - ibunda Raja Habibah).

Kitab ini menarik perhatian beberapa sarjana Barat yang meminati Bahasa Melayu. Kitab bahasa yang memperkenalkan beberapa istilah yang terdapat dalam agama Islam dengan huraian mantap, panjang dan memuaskan.

 

BAB 3

Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Munsyi Abdullah)

Latarbelakang

Karya-karya

• Hikayat Abdullah

 

BAB 4

IRR Raja Chulan

Latarbelakang

Karya-karya

• Misa Melayu

 

 

BAB 5

Tun Sri Lanang

Latarbelakang

Karya-karya

•  Sejarah Melayu

 

 

BAB 6

Dr. Usman Awang

Latarbelakang

Karya-karya

•  Tulang-tulang Berselerakan

 

BAB 7

Datuk A Samad Said

(Telah Dianugerahkan Tokoh Sasterawan Negara Pada Tahun 1985)

Latarbelakang

Karya-karya

 

BAB 9

Harun Aminurashid

 

Latarbelakang

Karya-karya

 

 

BAB 10

Keris Mas (Kamaluddin Muhammad)

 

Latarbelakang

Karya-karya

 

BAB 11

Pak Sako

 

Latarbelakang

Karya-karya