![]() |
![]() |
||||||||
![]() |
![]() |
||||||||
![]() |
![]() |
||||||||
Tokoh-tokoh Bahasa dan Sastera di Nusantara |
|||||||||
|
BAB I Hamzah al-Fansuri Latarbelakang Hamzah Fansuri adalah tokoh ugama yang menggegarkan dunia melalui puisi-puisi sufinya. Menurut sastrawan Abdul Hadi MW, Hamzah Fansuri merupakan pencipta "syair Melayu" yang bercirikan puisi empat baris dengan pola sajak akhir "a-a-a-a". Bakatnya sebagai sastrawan besar terserlah dalam kemampuan dan kreativitinya merubah bahasa lama menjadi bahasa baru dengan cara memasukkan ratusan kata Arab, istilah konseptual dari Al Quran dan falsafah Islam. Bahasa ini kemudiannya menjadi sebagai bahasa intelektual yang dihormati sebab dapat menampung gagasan baru yang diperlukan pada zaman itu. Peranan penting Hamzah al Fansuri dalam sejarah pemikiran dunia Melayu Nusantara bukan saja karena gagasan tasawufnya, tetapi puisinya yang mencerminkan pergelutan penyair menghadapi realiti zaman dan pengembaraan spiritualnya. Salah satu karya penting dari Hamzah Fansuri adalah Zinat Al-Wahidin yang ditulis pada akhir abad ke-16 ketika perdebatan sengit tentang paham wahdat al-wujud sedang berlangsung dengan tegang di Sumatera. Teks ini diyakini oleh para peneliti sebagai kitab keilmuan pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Hamzah Fansuri juga dikenal sebagai seorang pelopor dan pembaru melalui karya-karya Rubba al Muhakkikina, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Kritiknya yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja-raja, para bangsawan, dan orang-orang kaya, menempatkannya sebagai seorang intelektual yang berani pada zamannya. Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/01/tanahair/1552018.htm Karya-karya Zinat Al-Wahidin - ditulis pada akhir abad ke-16, kitab keilmuan pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Syair Perahu Syair Dagang Rubba al Muhakkikina
BAB 2 Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad Sumber: http://www.riaulingga.com Raja Ali Haji selain terkenal dengan karyanya Tuhfat al Nafis (sejarah Melayu) juga terkenal dengan berbagai karya lainnya baik politik, hukum maupun bahasa bahkan tiga karya besarnya di bidang bahasa menobatkannya sebagai Bapak Bahasa Indonesia yakni Gurindam Dua Belas (1847), Bustam al-Katibin (tata bahasa Melayu) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1851). Ia mengatakan, Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan wujud konstribusi penting Raja Ali Haji di bidang bahasa sebab jika dalam dua karya lainnya (Gurindam Dua belas dan Bustam al-Katibin) ia lebih terfokus pada upaya mengetengahkan keprihatinan dan mengagas upaya awal untuk memperbaiki beberapa konsep dan tata bahasa Melayu. "Sedangkan dalam Kitab Pengetahuan Bahasa ia secara tegas menghadirkan satu karya yang dirancang untuk menjadi rujukan utama dalam bahasa Melayu," katanya seraya menambahkan dari berbagai jasanya itu maka sepantasnyalah pemerintah pusat menganugerahi Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional. Latarbelakang Raja Ali Haji lahir di Pulau Penyengat, pusat Kerajaan Riau Lingga, Johor dan Pahang pada 1808 anak dari pasangan Raja Ahmad bin Raja Haji Fisabilillah dan Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara dan ayahnya Raja Ahmad merupakan tokoh penting dalam kerajaan Riau Lingga. Datuknya Raja Haji Fisabilillah adalah "Yang Dipertuan IV" Kerajaan Riau Lingga dan seorang pahlawan yang termasyur keberaniannya dalam melawan Belanda sehingga tewas dalam peperangan di Teluk Ketapang pada 1874. Gelar "Raja" pada namanya diperoleh dari nama keturunan keluarga karena "Yang Dipertuan IV" merupakan kerabat Sultan Riau Lingga. Setelah kematian Raja Ali Haji, dari Penyengat ini justru muncul 20-an pujangga yang diperkirakan langsung atau tidak langsung pernah berguru pada Raja Ali Haji. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, Aisyah Sulaiman, dan Abu Muhammad Adnan. Nama terakhir ini terlihat sangat subur yang bacaannya dalam berbagai bahasa seperti Arab dan Perancis sampai sekarang masih dapat dilihat. Satu hal yang patut diingat, Raja Ali Haji tampil saat Kemaharajaan Melayu di Riau sudah berada pada posisi lemah. Ketika remaja, ia menyaksikan bagaimana kerajaan ini dipecah-belah menjadi dua bagian -bagian utara di bawah Inggris, sedangkan bagian selatan di bawah Belanda- melalui Traktat London 1824. Saat itu juga, nilai perdagangan Singapura yang setengah abad sebelumnya di bawah Riau, kini telah jauh meninggalkan induknya seiringan dengan kekalahan Riau melawan Belanda tahun 1784. Kini orang pun kembali disadarkan bahwa berkat pekerjaan Raja Ali Haji, setidaknya Melayu tidak kehilangan marwah di tengah hantaman ekonomi kapitalis yang melanda bekas daerahnya, Singapura. Di tengah kesibukan Singapura membangun ekonomi, Riau pada saat itu juga yang disimbolkan Raja Ali Haji maju ke depan dengan bendera kebudayaan, di samping berusaha memperbaiki ekonomi. Dengan sendirinya, ia hadir pada setiap zaman. Lalu mampukah Hari Raja Ali Haji 1996 menangkap semangat kerja Raja Ali Haji dan lingkarannya itu untuk ditanamkan baik pada masa kini maupun masa mendatang? Karya-karya Tuhfat al Nafis
Haji Ali (Tengku Selat) bin Raja Haji Muhammad (Tengku Nong ) presented a copy of the Tuhfat-al-nafis that he had personally transcribed - to the then retiring Dutch Resident General A.L. van Hasselt. This was a copy from the shorter version which was used by Virginia Matheson as her base text for her doctorate dissertation that was forwarded to Monash University , Australia in 1973. In 1903 van Hasselt handed it to the KITLV library in Leiden . This copy was catalogued by Ph. S. van Ronkel in 1937 under "Catalogus der Maleische Handschriften... VBG 57 1909". Apart from this copy, there are three other copies in existence: A copy that was given to W. Maxwell and transcribed in 1890. This copy received was from a certain Syamsudin bin Imam Musa of Kelang. Copy now in Royal Asiatic Society, London . A copy that was borrowed by A.C. Blagden from Tengku Fatimah binti Sultan Abu Bakar, Johor. Richard Windstedt used this version to print a Jawi copy. And another copy that is kept in the Dewan bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur . !!!
Gurindam Dua Belas (1847) INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA
Bustam al-Katibin (tata bahasa Melayu) Kitab Pengetahuan Bahasa (1851).
Khamus Loghat Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga hasilkarya. Kitab pengetahuan bahasa, yang pertama dicetak oleh Al-Ahmadiah Press, Singapura pada 1345H/1927M. Pengasas Ahmadiah Press (1903), Singapura dan Ahmadi & Co., Midai, Pulau Tujuh, Natuna, terdiri dari Raja Haji Ali (Tengku Selat) bin Raja Muhammad (Tengku Nong) - berserta beberapa kerabat diraja Riau.(Diantara zuriat zuriat anakanda beliau yang berada diSingapura ialah dari keluarga Raja Salman, Raja Halimah dan Raja Hajjah Fatimah - ibunda Raja Habibah). Kitab ini menarik perhatian beberapa sarjana Barat yang meminati Bahasa Melayu. Kitab bahasa yang memperkenalkan beberapa istilah yang terdapat dalam agama Islam dengan huraian mantap, panjang dan memuaskan.
BAB 3 Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Munsyi Abdullah) Latarbelakang Karya-karya Hikayat Abdullah
BAB 4 IRR Raja Chulan Latarbelakang Karya-karya Misa Melayu
BAB 5 Tun Sri Lanang Latarbelakang Karya-karya Sejarah Melayu
BAB 6 Dr. Usman Awang Latarbelakang Karya-karya Tulang-tulang Berselerakan
BAB 7 Datuk A Samad Said (Telah Dianugerahkan Tokoh Sasterawan Negara Pada Tahun 1985) Latarbelakang Karya-karya
BAB 9 Harun Aminurashid
Latarbelakang Karya-karya
BAB 10 Keris Mas (Kamaluddin Muhammad)
Latarbelakang Karya-karya
BAB 11 Pak Sako
Latarbelakang Karya-karya
|
||||||||
![]() |
|||||||||