Dimana Allah?
Bab: Akidah
oleh:
Abdul Hakim bin Amir Abdat
Saya akan menjelaskan salah satu akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa'ah,
yang telah hilang dari dada sebahagian kaum muslimin, iaitu: tentang istiwaa
(Kekuasaan) Allah di atas Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran dan
kemuliaan-Nya. Sehingga bila kita bertanya kepada saudara kita; Dimana Allah?
Kita akan mendapat dua jawapan yang bathil bahkan sebagiannya kufur..!:
Allah ada
pada diri kita ini ..!
Allah
dimana-mana di segala tempat!
Jawapan yang
pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Allah dengan manusia)
yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang. Sedangkan
jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan
sifat-sifat Allah) dan Mu\'tazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya
dari ahlul bid\'ah.
Rasulullah
Sholallahu 'Alaihi Wa Salam pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak
perempuan milik Mua\'wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan
sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya iaitu Mu\'awiyah:
ertinya:
"Beliau
bertanya kepadanya: "Di manakah
Allah?. Jawab
budak perempuan: "Di atas langit. Beliau bertanya (lagi): "Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu: "Engkau adalah Rasulullah". Beliau bersabda: "Merdekakan ia! .. kerana sesungguhnya ia mukminah (seorang perempuan yang
beriman)".
Hadith shahih. Dikeluarkan oleh Jama'ah ahli hadith, diantaranya:
1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik
syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
2. Imam Muslim (2/70-71)
3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
4. Imam Nasa'i (3/13-14)
5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
6. Imam Daarimi 91/353-354)
7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No.
1105)
8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya
\"Al-Muntaqa\" (No. 212)
9. Imam Baihaqy di Kitabnya
\"Sunanul Kubra\" (2/249-250)
10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para
Imam- di Kitabnya \"Tauhid\" (hal. 121-122)
11. Imam Ibnu Abi \'Aashim di Kitab
As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad\. Nashiruddin Al-Albanni).
12. Imam
Utsman bin Sa\'id Ad-Daarimi di Kitabnya \"Ar-Raddu \'Alal
Jahmiyyah\" (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan
darus Salafiyah).
13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya
\"As-Sunnah \" (No. 652).
Pembahasan
Pertama.
Hadis ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul
bid'ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu'tazilah dan yang sefaham dengan mereka, iaitu;
dari kaum yang menyandarkan akidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail
Al-Asy'ary, iaitu; mereka mempunyai i'tiqad (berpendapat):
"Allah Berada di Tiap-tiap
Tempat atau Allah Berada di mana-mana.!?"
Katakanlah
kepada mereka: Jika demikian, yakini Allah berada dimana-mana tempat, maka
Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di
bawah makhluknya!?.
Jawablah
kepada mereka dengan firman Allah 'Azza wa jalla’:
Ertinya:
·
"Maha
suci Engkau! ini adalah satu dusta yang sangat besar" (An-Nur: 16)
·
"Maha
suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan " (Al-Mu'minun: 91)
·
"Maha
Suci Dia! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian
yang besar". (Al-Isra: 43)
Berkata Imam
Adz-Dzahabi setelah membawakan hadith ini, di kitabnya "Al-Uluw"
(hal: 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Ertinya:
"Dan demikian rujukan kami (setuju dengan hadith) setiap orang yang
ditanya: "Dimana Allah? "Dia segera dengan
fitrahnya menjawab: Di atas langit!.
Didalam hadis ini ada dua masalah:
Pertama:
Disyariatkan
pertanyaan seorang muslim: Dimana Allah?.
Kedua: Jawapan
orang yang ditanya: (Allah) di atas langit!
Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia
telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) Shallallahu Alaihi wa Salam".
Dan telah
berkata Imam Ad-Daarimi setelah membawakan hadis ini di kitabnya "Ar-Raddu
'Alal Jahmiyah (hal: 39): "Di dalam hadis Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Salam ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak
mengetahui sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi,
tidaklah ia seorang mukmin".
Tidaklah
engkau perhatikan bahawa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Salam telah menjadikan tanda alamat keimanannya (iaitu budak perempuan) tentang
pengetahuannya sesungguhnya Allah diatas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Salam (kepada budak perempuan): "Dimana Allah?". Mendustakan perkataan orang yang mengatakan: "Dia
(Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh disifatkan dengan
(pertanyaan): Dimana .?
Kedua
Lafaz 'As-Samaa" menurut lughoh bahasa Arab ertinya:
Setiap yang tinggi dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa):
Ertinya:
"(Lafadz) As-Samaa langit di dalam bahasa dikatakan: Bagi tiap-tiap yang
tinggi dan berada diatas. Dikatakan: Atap rumah langit-langit rumah".
Dinamakan
"Awan" itu langit As-Samaa, karena ia berada
di atas manusia. Firman Allah 'Azza wa Jalla.
Ertinya:
مِنَ
السَّمَاء
مَاء
وَأَنزَلَ
"Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)"
(Al-Baqarah: 22).
Adapun huruf
"Fii" dalam lafadz hadits "Fiis-Samaa" bermakna "
'Alaa" seperti firman Allah 'Azza wa Jalla:
Ertinya:
فَسِيحُواْ
فِي الأَرْضِ
"Maka berjalanlah kamu di atas di muka bumi" (At-Taubah: 2)
الأَرْضِ
يَتِيهُونَ
فِي
"Mereka mengembara
kebingungan di muka bumi" (Al-Ma'dah: 26).
Lafadz
"Fil Arldhii" dalam dua ayat diatas maknanya "
Alal Arldhii", Maksudnya: Allah Azza wa Jalla berada dipihak diarah
yang tinggi -di atas langit- yakni di atas 'Arsy-Nya yang sesuai dengan
kebesaran-Nya. Ia tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun
mahluk menyerupai-Nya.
Firman Allah
Azza wa Jalla:
Ertinya:
الْعَظِيمُ
لَهُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي
الْأَرْضِ
وَهُوَ
الْعَلِيُّ
"Dialah yang menguasai segala
yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan Dialah Yang Tertinggi keadaannya,
lagi Maha Besar kekuasaan-Nya.". (Asy-Syuura: 4)
وَلَمْ
يَكُن لَّهُ كُفُوًا
أَحَدٌ
"Dan tidak ada
satupun yang sama/sebanding dengan-Nya" (Al-ikhlas: 4)
الرَّحْمَنُ
عَلَى
الْعَرْشِ
اسْتَوَى
"Iaitu Allah
Ar-Rahmaan, yang bersemayam di atas Arasy". (Thaha: 5)
سِتَّةِ
أَيَّامٍ
ثُمَّ
اسْتَوَى
عَلَى الْعَرْشِ
إِنَّ
رَبَّكُمُ
اللّهُ
الَّذِي
خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضَ
فِي
"Sesungguhnya
Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari,
kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy. (Al-A'raaf:54)
.
Madzhab
Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang
empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi'iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama
termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy\'ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa;
Allah Azza wa Jalla ISTIWAA diatas 'Arsy-Nya
sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Mereka tidak
menta'wil ISTIWAA ISTAWAA dengan ISTAWLA yang ertinya: Berkuasa. Seperti halnya
kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan "Allah
istiwaa di atas 'Arsy itu maknanya: Allah menguasai 'Arsy!.
Bukan zat Allah berada di atas langit yakin di atas 'Arsy-Nya, kerana Allah
berada dimana-mana tempat!?... Mereka ini telah merubah perkataan dari
tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah
kepada mereka sama seperti kaum Yahddwdudi (baca
Katakan
kepada mereka: Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa, maka Allah 'Azza
wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai 'Arsy. Ia menguasi langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara
keduanya dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah 'Azza wa
Jalla telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas 'Arsy-Nya dalam tujuh tempat
di dalam kitab-Nya Al-Quran. Dan semuanya dengan lafaz "istawaa". Ini menjadi dalil yang sangat besar bahawa yang dikehendaki dengan
istawaa ialah secara hakikat, bukan "istawla" dengan jalan mental'wilnya.
Telah berfirman Allah 'Azza wa Jalla di Muhkam
Tanzil-Nya. Ertinya: "Ar-Rahman di atas '
1. Surat
Al-A\'raf ayat 54
2. Surat Yunus ayat 3
3. Surat Ar-Ra\'du ayat 2
4. Surat Al-Furqaan ayat 59
5. Surat As-Sajdah ayat 4
6. Surat Al-Hadid ayat 4
Menurut
lughoh/bahasa, apabila fi'il istiwaa dimuta'adikan oleh huruf '
وَاسْتَوَتْ
عَلَى
الْجُودِيِّ
"Dan berhentilah kapal (Nuh) diatas gunung/bukit Judi" (Hud: 44).
Di ayat ini fi\'il \"istawaa\" dimuta\'addikan oleh huruf '
Berkata
Mujahid (seorang Tabi\'in besar murid Ibnu Abbas). Ertinya: "Ia istawaa (bersemayam) di atas "Arsy" maknanya:
"Ia berada tinggi di atas "Arsy" (Riwayat Imam Bukhari di
sahihnya Juz 8 hal: 175)
Berkata Imam
Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di kitabnya "At-Tauhid" (hal:
101): Ertinya: "Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A'laa (yang Maha Besar dan Maha tinggi) sesungguhnya
pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas 'Arsy-Nya.
Kami tidak
akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan
perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagimana (kaum)
Jahmiyyah yang menghilangkan sifat-sifat Allah, dengan mengatakan "
Yakni, Allah
telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang mulia, bahawa Ia istiwaa di atas 'Arsy-Nya (Dzat Allah istiwaa/bersemayam
di atas 'Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada
dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satupun tersembunyi dari pengetahuan-Nya).
Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah mengubah firman Allah istawaa dengan istawla
yakni menguasai 'Arsy sedangkan zat Allah berada dimana-mana/tiap-tiap tempat!!!. Maha Suci Allah dari apa-apa yang disifatkan kaum
Jahmiyyah!
Adapun
madzhab Salaf, mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla istiwaa -dan bukan istawla- di
atas 'Arsy-Nya tanpa:
1. Tahrif yakni;
Merubah lafadz atau artinya.
2. Ta\'wil yakni;
Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
3. Ta\'thil yakni;
Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara
keseluruhannya
4. Tasybih yakni;
Menyerupakan Allah dengan mahluk.
5. Takyif yakni;
Bertanya dengan pertanyaan: Bagaimana (caranya)?
Alangkah
bagusnya jawapan Imam Malik ketika beliau ditanya:
"Bagaimana
caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy?. Beliau menjawab:
Ertinya:
"Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang
tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya
(Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah
istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bida'ah".
(baca: Fatwa Hamawiyyah Kubra hal: 45-46).
Perhatikan!
1. 'Arsy
adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada diatas tujuh langit dan sangat
besar sekali sebagaimana diterangkan
Ibnu Abbas:
Ertinya: "Dan 'Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya".
Berkata Imam
Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" (hal: 102): rawi-rawinya tsiqaat
(terpercaya).
Muhammad
Nashiruddin Al-Albani mengatakan: Sanadnya shahih semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya
"At-Tauhid").
2. BahAwa
Allah 'Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas 'Arsy- tidak tergantung kepada 'Arsy.
Bahkan
sekalian mahluk termasuk 'Arsy bergantung kepada Allah Azza wa
Jalla.
Firman Allah
'Azza wa Jalla.
Ertinya:
الْعَالَمِينَ
إِنَّ
اللَّهَ
لَغَنِيٌّ عَنِ
"Sesungguhnya Allah
Maha Kaya dari sekalian alam" (Al-Ankabut: 6)
Yakni: Allah
tidak berkeperluan kepada sekalian makhluk".
Ketiga
Penunjukan Beberapa Dalil dari Al-Quran dan Hadis yang Shahih.
Firman Allah
'Azza wa Jalla.
Ertinya:
هِيَ
تَمُورُ
أَأَمِنتُم
مَّن فِي السَّمَاء
أَن يَخْسِفَ
بِكُمُ
الأَرْضَ فَإِذَا
“Patutkah kamu merasa
aman kepada Tuhan yang berkuasa di langit bahawa Dia akan menimbus bumi dengan
kamu, lalu bergegarlah bumi itu." (Al-Mulk : 16)
فَسَتَعْلَمُونَ
كَيْفَ
نَذِيرِ أَمْ
أَمِنتُم
مَّن فِي
السَّمَاء
أَن يُرْسِلَ
عَلَيْكُمْ
حَاصِبًا
“Atau patutkah kamu
merasa aman kepada Allah yang berkuasa di langit, menghantarkan kepada kamu
angin ribut yang menghujani kamu dengan batu; maka dengan itu, kamu akan
mengetahui kelak bagaimana buruknya kesan amaran-Ku.” (Al-Mulk: 17).
Berkata Imam
Ibnu Khuzaimah -setelah membawakan dua ayat di atas di kitabnya "At-Tauhid"
(hal: 115).
Ertinya:
"
Berkata Imam
Abul Hasan Al-Asy'ary di kitabnya "Al-Ibanah Fi Ushulid-diayaanah hal: 48)
setelah membawakan ayat di atas: "Di atas langit-langit itu adalah 'Arsy,
maka tatkala 'Arsy berada di atas langit-langit. Ia
berfirman: "Apakah kamu merasa aman terhadap zat yang berada di atas
langit?" Kerana sesungguhnya Ia istiwaa
(bersemayam) di atas 'Arsy yang berada di atas langit, dan tiap-tiap yang tinggi
itu dinamakan 'As-Samaa" (langit), maka ‘Arsy berada di atas langit.
Bukankah yang dimaksud apabila Ia berfirman: "Apakah
kamu merasa aman terhadap zat yang diatas langit?" yakni seluruh langit! Tetapi
yang Ia kehendaki adalah 'Arsy yang berada di atas langit".
Saya
berpandangan (Abdul Hakim bin Amir Abdat): Dua ayat di atas sangat tegas sekali
yang tidak dapat dibantah dan ta'wil bahwa lafadz "MAN" tidak mungkin
difahami selain dari Allah 'Azza wa Jalla. Bukan Malaikat-Nya sebagaimana
dikatakan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengannya, yang telah merubah
firman Allah 'Azza wa Jalla. Bukankah dlamir (kata ganti) pada fi'il (kata
kerja) "yakhtsif" (Ia menenggelamkan) dan "yartsil" (Ia
mengirim) adalah "huwa" (Dia)? siapakah Dia itu kalau bukan Allah 'Azza
wa Jalla.
Firman
Allah:
Ertinya:
يَخَافُونَ
رَبَّهُم
مِّن
فَوْقِهِمْ
وَيَفْعَلُونَ
مَا
يُؤْمَرُونَ
"Mereka (para Malaikat) takut
kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa
yang diperintahkan". (An-Nahl: 50).
Ayat ini
tegas sekali menyatakan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berada di atas bukan di mana-mana
tempat. Kerana lafaz "fawqo" (di atas) apabila di majrur dengan huruf
"min" dalam bahasa Arab menunjukan akan
ketinggian tempat. Dan tidak dapat di ta\'wil dengan ketinggian martabat,
sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zalimnya
mereka ini yang selalu berubah-ubah firman Tuhan kita Allah Jalla Jalaa Luhu.
Berkata Imam
Ibnu Khuzaimah di kitabnya "At-Tauhid" (hal: 111): "Tidaklah
kalian mendengar firman pencipta kita 'Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
Ertinya:
وَهُوَ
الْقَاهِرُ
فَوْقَ
عِبَادِهِ
وَهُوَ
الْحَكِيمُ
الْخَبِيرُ
"Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya". (Al-An'am: 18 & 61).
Berkata Imam
Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut: "Tidakkah kalian mendengar wahai
penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala kepada
Isa bin Maryam:
Ertinya:
إِذْ
قَالَ اللّهُ
يَا عِيسَى
إِنِّي مُتَوَفِّيكَ
وَرَافِعُكَ
إِلَيَّ
“Ketika Allah
berfirman: Wahai Isa! Sesungguhnya Aku akan mematikan kamu, dan akan
mengangkatmu ke sisi-Ku," (Ali Imran: 55)
Ibnu
Khuzaimah menerangkan: Bukankah "mengangkat" sesuatu itu dari bawah
ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!.. Dan
firman Allah 'Azza wa Jalla.
Ertinya:
بَل
رَّفَعَهُ
اللّهُ
إِلَيْهِ
وَكَانَ اللّهُ
عَزِيزًا
حَكِيمًا
"Allah telah mengangkat Nabi Isa
kepada-Nya; dan adalah Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana”. (An-Nisa': 158).
Karena
"Ar-raf'ah" = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka
kita diajar berbicara (yakni Al-Quran) dalam bahasa Arab yang hanya dapat
diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas" (kitab At-Tauhid:
111).
Sekarang
dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Firaun bersama Nabi Allah Musa 'Alaihis
Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Firaun telah mendustakan Musa yang
telah mengabarkan kepadanya bahawa Tuhannya Allah Subhanahu wa
Ta'ala di atas langit:
Ertinya:
"Dan berkata Firaun:
Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi
supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Iaitu) jalan-jalan menuju ke
langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, kerana
sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta". (Al-Mukmin: 36-37.
Al-Qashash: 38).
Perhatikanlah
wahai orang yang berakal!. Perintah Fir'aun kepada
Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal
ini menunjukkan bahawa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahawa Tuhannya
-Allah Subhanahu wa Ta'ala- berada di atas langit-.
Kalau tidak
demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahawa Tuhannya ada dimana-mana
tempat sebagai mana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Firaun yang disebabkan kerana
kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tenteranya
untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di
pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat!?. Tetapi tatkala Nabi
Musa dengan perkataannya:
"Sesungguhnya aku mengira dia
ini berdusta!". Yakni tentang
perkataan Musa bahwa Tuhannya di atas langit.
Perhatikanlah,
wahai orang yang berakal!. Keadaan Firaun yang
mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang
telah merubah firman
Allah dengan
mengatakan: Allah ada di segala tempat!.
Ketahuilah!
Bahawa pemahaman di atas bukanklah hasil dari fikiran saya (Abdul Hakim bin
Amir Abdat) tetapi pemahaman Ulama-ulama kita diantaranya:
Imam Ibnu
Khuzaimah di kitabnya "At-Tauhid" (hal: 114-115) diantara keterangannya:
"Perkataan
Firaun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang
berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Firaun"
Bahawa
Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi
dan di atas".
Berkata Imam
Al-Asy'ary setelah membawakan ayat di atas: "Fir'aun telah mendustakan
Musa tentang perkataannya: Sesungguhnya Allah di atas langit" (Al-Ibanah:
48).
Berkata Imam
Ad-Daarimi di kitabnya,
"Raddu
\'Alal Jahmiyyah hal: 37 Setelah membawakan ayat di atas: " Di dalam ayat
ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa
telah mengajak Fir'aun mengenal Allah bahwa Ia berada
di atas langit. Oleh karena itu Firaun memerintahkan membuat
bangunan yang tinggi".
Berkata Syaikhul
Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya tiqad Ahlus Sunnah wa
Ashabul Hadits wal A'imah" (hal: 15):"Bahwasanya Fir'aun mengatakan
demikian (yakni menuduh
Musa
berdusta) karena ia telah mendengar
Imam Abu
Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby diantara keterangannya:"Berkata
Fir'aun: (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa
yang ia (Musa) katakan kepadaku: "Sesungguhnya Tuhannya berada di atas
langit". Kemudian beliau menerangkan:"Kalau sekiranya Musa
mengatakan: "Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya,
nisacaya Fir'aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia
merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir'aun tidak akan
menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi". (Fatwa Hamawiyyah
Kubra: 73).
Berkata Imam
Ibnu Abdil Bar: "Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan
(kepada Fir'aun): "Tuhanku di atas langit! sedangkan
Fir'aun menuduhnya berdusta". (baca Ijtimaaul
Juyusy Al-Islamiyyah hal: 80).
Berkata Imam
Al-Waasithi di kitabnya "An-Nahihah fi Shifatir Rabbi Jalla wa 'Alaa" (hal: 23 cetakan ke-3 th 1982 Maktab
Al-Islamy): "Dan ini menunjukkan bahwa Musa telah mengabarkan kepadanya
bahwa Tuhannya yang Maha Tinggi berada di atas langit. Oleh karena itu Fir'aun
berkata: "Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta".
Demikianlah
penjelasan dari tujuh Imam besar di dalam Islam tentang ayat di atas, selain
masih banyak lagi yang kesimpulannya: "Bahwa mendustakan Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit di atas '
Sampai disini pembahasan beberapa dalil dari kitab Allah -salain masih
banyak lagi- yang cukup untuk diambil pelajaran bagi mereka yang ingin
mempelajarinya.
Firman Allah
Subahanhu wa Ta'ala.
Artinya:
فَاعْتَبِرُوا
يَا أُولِي
الْأَبْصَارِ
"Ambillah
pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan !"
(Al-Hasyr: 2).
Adapun dalil-dalil dari hadits Nabi Sholallahu \'Alaihi Wasalam banyak
sekali. Dibawah
ini akan disebutkan beberapa diantaranya:
Nabi kita
Sholallahu\'Alaihi Wasalam telah bersabda:
Artinya:
"Orang-orang yang
penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah
Tabaaraka wa Ta'ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh
karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas
langit akan menyayangi kamu". (Shahih.
Diriwayatkan oleh Imam-imam: Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah
bin 'Amr bin 'Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam
Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi.
Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih dikitabnya
\"Silsilah Shahihah No. 925\".
"Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya
tidak akan di sayang oleh Dzat yang di atas langit". (Shahih,
diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya "Mu'jam Kabir No. 2497 dari
jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw"
hal: 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan:
Rawi-rawinya
tsiqaat/kepercayaan).
"Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan
Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu
pagi dan petang". (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111
dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa'id Al-Khudry).
"Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Tidak seorang suamipun yang mengajak
istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang isteri menolaknya,
melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla
kepadanya ".(Shahih, diriwayatkan oleh Imam
Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).
Keterangan:
"Dzat yang
di atas langit yakni Allah 'Azza wa Jalla (perhatikan empat hadits diatas)"
.
"Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat
siang dan mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naik malaikat yang bermalam
dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka: "Bagaimana (keadaan
mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab: "Kami
tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam
keadaan shalat". (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari
1/139 dan Muslim 2/113 dll).
Keterangan:
"Sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam: "Kemudian NAIK
Malaikat-malaikat yang bermalam ...dst"
Menunjukan
bahwa Pencipta kita Allah Subhanahu wa Ta'ala berada
di atas. Hal ini juga menunjukan betapa rusaknya fikiran dan
fitrahnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Pencipta kita, tidak berada di atas
tetapi di segala tempat? Maha Suci Allah! Dan Maha Tinggi Allah dari
segala ucapan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka!.
"Jabir
bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang
panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam di
Sungguh hadits ini merupakan tamparan yang pedas di muka-muka kaum Ahlul
Bid'ah yang selalu melarang kaum muslimin berisyarat dengan jarinya ke arah
langit. Mereka
berkata:
Kami
khawatir orang-orang akan mempunyai i'tiqad bahwa
Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit! Padahal Allah tidak bertempat
tetapi Ia berada di segala tempat!?.
Demikianlah
kekhawatiran yang dimaksudkan syaithan ke dalam hati ketua-ketua mereka.
Yang pada hakikatnya mereka ini telah membodohi Nabi Shalallahu 'Alaihi
Wasalam yang telah mengisyaratkan jari beliau ke arah langit.
Perhatikanlah
perkataan mereka: "Allah tidak bertempat tetapi Ia
berada di segala tempat!?"
Perhatikanlah!
Adakah akal yang shahih dan fitrah yang bersih dapat menerima dan mengerti
perkataan di atas!?.
Mereka
mengatakan Allah tidak bertempat kerana akan
menyerupai dengan mahluk-Nya.
Tetapi pada
saat yang sama mereka tetapkan bahwa Allah berada disegala tempat atau
dimana-mana tempat!?.
Ya
Subhanallah!
Artinya:
"Dari
Ibnu Abbas (ia berkata): " Bahwa Rasulullah
Sholallahu 'Alaihi Wasalam berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10
Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khutbah Nabi Shalallahu 'Alaihi
Wasalam- kemudian beliau mengangkat kepalanya (ke langit) sambil mengucapkan:
Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan! Ya Allah bukankah aku telah
menyampaikan!. (Riawayat Imam Bukhari Juz 2 hal: 191).
Perhatikan
wahai orang yang berakal! Perbuatan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasalam
mengangkat kepalanya ke langit mengucapkan: Ya Allah!.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasalam menyeru kepada Tuhannya Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang berada di atas langit yakni di atas 'Arsy di atas
sekalian mahluk-Nya. Kemudian perhatikanlah kaum
Jahmiyyah
yang mengatakan Allah ada di segala tempat, di bawah mahluk, di jalan-jalan, di
tempat-tempat yang kotor, dan di perut-perut hewan!?
Maha Suci
Allah! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah dan yang
sama dengan mereka!.
Artinya:
"
Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi Shalallahu
'
Adapun
keterangan dari para sahabat Nabi Sholallahu 'Alaihi Wa
Salam, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak
sekali, yang tidak mungkin kami turunkan satu persatudalam risalah kecil ini,
kecuali beberapa diantaranya.
1. Umar bin Khatab
pernah mengatakan:
Artinya:
"Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari
sini". Sambil Umar
mengisyaratkan tangannya ke langit" [Imam Dzahabi di kitabnya
"Al-Uluw" hal: 103. mengatakan: Sanadnya seperti Matahari (yakni
terang benderang keshahihannya)].
2. Ibnu Mas'ud
berkata:
Artinya:
"'Arsy itu diatas
air dan Allah 'Azza wa Jalla di atas 'Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu
kerjakan".
Riwayat ini
shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya "Al-Mu\'jam Kabir"
No. 8987. dan lain-lain Imam.
Imam Dzahabi
di kitabnya "Al-Uluw" hal: 103 berkata: sanadnya shahih, dan Muhammad
Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini
di kitab Al-Uluw). Tentang 'Arsy Allah di atas air ada firman
Allah 'Azza wa Jalla.
وَكَانَ
عَرْشُهُ
عَلَى
الْمَاء
"Dan adalah
'Arsy-Nya itu di atas air" (Hud: 7)
3. Anas bin Malik
menerangkan:
Artinya:
"Adalah Zainab
memegahkan dirinya atas isteri-isteri Nabi Shalallahu '
Dalam satu
lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan: "Sesungguhnya Allah telah
menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit". (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Salam dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta'ala
yang menikahinya dari atas 'Arsy-Nya.
4. Imam Abu Hanifah berkata:
Artinya:
"Barangsiapa yang
mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia
telah kafir".
Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan "aku
tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi". Berkata Imam Abu Hanifah:
"Sesungguhnya dia telah 'Kafir!". Karena Allah telah berfirman: "Ar-Rahman
di atas '
5. Imam Malik bin Anas telah berkata:
Artinya:
"Allah berada di
atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi
sesuatupun dari-Nya".
6. Imam Asy-Syafi\'iy telah berkata:
Artinya:
"Dan sesungguhnya Allah di atas
'Arsy-Nya di atas langit-Nya"
7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya:
"Allah di atas tujuh langit diatas 'Arsy-Nya, sedangkan
kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat .?
Jawab Imam
Ahmad:
Artinya:
"Benar! Allah di atas
\'Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya".
Imam Ali bin Madini
pernah ditanya: "Apa perkataan Ahlul Jannah?\"
.8. Imam Ali bin Madini
pernah ditanya: "Apa perkataan Ahlul Jannah?".
Beliau menjawab:
Artinya:
"Mereka beriman
dengan ru'yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi
kaum mu'minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas '
9. Imam Tirmidzi telah berkata:
Artinya:
"Telah
berkata ahli ilmu: "Dan Ia (Allah) di atas 'Arsy sebagaimana Ia telah
sifatkan diri-Nya".(Baca: "Al-Uluw oleh Imam
Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal:
137,140,179,188,189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah hal: 51,52,53,54 dan 57).
10. Telah berkata
Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam-:
Artinya:
"Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta'ala di atas '
11. Telah berkata
Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya-:
"Tidak
boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap
tempat, bahkan (wajib) mengatakan:
الرَّحْمَنُ
عَلَى
الْعَرْشِ
اسْتَوَى
“Iaitu Allah
Ar-Rahmaan, yang bersemayam di atas Arasy”. (Thaha: 5).
Dan patutlah
memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta'wil sesungguhnya Ia
istiwaa dengan Dzat-Nya di atas 'Arsy. Dan keadaan-Nya di
atas 'Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia
turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):"Bagaimana
caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy-Nya?" (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal:
87).
Yakni: Kita
wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala istiwaa
di atas 'Arsy-Nya yang menunjukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas
sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan: "Bagaimana
caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy-Nya?". Karena yang demikian tidak dapat
kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam.
Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk
sebagaiamana kita meniadakan pertanyaan: Bagaimana Dzatnya Allah?.
Demikianlah
aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di
Inna lillahi
wa innaa ilaihi raaji'un!!.
Kelima
Kesimpulan
Hadits Jariyah
(budak perempuan) ini bersama hadith-hadith yang lain yang sangat banyak dan
berpuluh-puluh ayat Al-Quran dengan tegas dan terang menyatakan: "Sesungguhnya
Pencipta kita Allah 'Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas 'Arsy-Nya, yang
sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya". Maha Suci Allah dari
menyerupai mahluk-Nya.!.
Dan Maha
Suci Allah dari ta'wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana
tempat!??.
Dapatlah
kami simpulkan sebagai berikut:
Sesungguhnya
bertanya dengan pertanyaan: "Dimana Allah?,
disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa
Salam.
Wajib
menjawab: "Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas 'Arsy". Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas 'Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagai mu'min atau mu'minah.
Sebagaimana Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Salam, telah menyatakan keimanan budak
perempuan, kerana jawapannya: Allah di atas langit!.
Wajib mengi'tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas Arsy-Nya. Barangsiapa yang mengingkari wujud
Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah
kafir.
Barangsiapa
yang tidak membolehkan bertanya: Dimana Allah? maka
sesunguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah Shalallahu
'Alaihi Wa Salam, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Na'udzu billah.
Barangsiapa
yang tidak menjawab: Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
Barangsiapa
yang mempunyai iti'qad bahwa bertanya:"Dimana Allah?" akan
menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Salam jahil bodoh!.
Na'udzu billah!
Barangsiapa
yang mempunyai iti'qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
Barangsiapa
yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia
penyembah Allah 'Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada "sesuatu yang
tidak ada".
Ketahuilah!
Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas
langit, yakni di atas 'Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju
dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun
dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur'an dan hadith yang mencapai darjat
mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan
Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma' diantara mereka kecuali kaum
ahlul bid'ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika
dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat!. Adapun
fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo\'a
khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke
langit sambil mengucapkan \'Ya ... Tuhan..!. Manusia dengan
fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas
sekalian mahluk-Nya yakni di atas 'Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat
juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang
telah rusak fitrahnya.
Tambahan
Sebagian
ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tentang ayat:
Artinya:
وَهُوَ
اللّهُ فِي
السَّمَاوَاتِ
وَفِي الأَرْضِ
يَعْلَمُ
سِرَّكُمْ
وَجَهرَكُمْ
وَيَعْلَمُ
مَا
تَكْسِبُونَ
"Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia
kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan
". (Al-An’aam: 3)
Saya jawab:
Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum
Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan:
"Innahu
Fii Qulli Makaan"
"
Maha Suci
Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini!
Adapun
maksud ayat ini ialah:
14.Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di
langit dan di bumi.
15.Yakni: Dialah yang disembah dan ditauhidkan
(diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang
dilangit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin
dan manusia.
Ayat
tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya:
الْحَكِيمُ
الْعَلِيمُ
وَهُوَ
الَّذِي فِي
السَّمَاء
إِلَهٌ وَفِي
الْأَرْضِ
إِلَهٌ وَهُوَ
"Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai)
Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui". (Az-Zukhruf: 84)
Yakni:
Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan
Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca: Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).
Bukanlah dua
ayat di atas maksudnya: Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala
tempat!. Sebagaimana ta'wilnya kaum
Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang
yang "diam" Tidak tahu Allah ada di mana!.
Mereka
selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi serta keterangan
para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab
yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
Imam Abu
Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (A-Zukhruf: 84) menerangkan:
"Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang
demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau
berkata: "Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di
Bagi Allah
ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca: Fatwa Hamawiyyah Kubra hal: 73).
Adapun orang
yang "diam" (tawaqquf) dengan mengatakan: "Kami tidak tahu Dzat
Allah di atas 'Arsy atau di bumi", mereka ini adalah orang-orang yang
telah memelihara kebodohan!.
Allah Rabbul
'Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya
bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan
menetapkannya.
Oleh karena itu "diam" darinya dengan ucapan "kita tidak
tahu" nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah
mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama
seperti orang yang menta'wilnya.
Sumber dari: milis
assunnah_file