Oleh:
Syeikh. Prof. Dr.
Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr
--------------------------------------------------------------------------------
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan,
ampunan dan bertaubat kepada-Nya.
Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan kejelekan
amalan kita.
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat
menyesatkannya.
Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat
memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahawa tidak ada sesiapa yang berhak disembah selain
Allah, tidak ada sekutu baginya.
Dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya,
pilihan dan kekasihNya, yang Dia percayai untuk menyampaikan wahyu dan
syariat-Nya kepada umat manusia.
Semoga selawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada
beliau, serta semua keluarga dan sahabatnya.
Kaum mukminin dan para hamba Allah...
Bertakwalah kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--, karena
sesungguhnya orang yang bertakwa kepadaNya akan dijaga dan dibimbing oleh-Nya
kepada kebaikan urusan dunia dan akhirat.
Kebelakangan ini dunia seisinya membicarakan sebuah peristiwa
besar, iaitu gempa dahsyat yang kerananya bumi tergoncang hebat, dia berasal
dari satu pulau di
Ini ialah sebuah peristiwa benar yang semestinya menggerakkan hati
kita. Kejadian ini memberi kesedaran kepada semua untuk membicara dan mengikuti
berita serta perkembangannya. Seorang mukmin yang dikurniai taufiq oleh Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala---, dalam kejadian dan musibah besar seperti ini, harus dilakukan
pelbagai renungan keimanan, untuk menambahkan kesolehan dan pendekatan kepada
Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , juga menambahkan rasa takut untuk bertemu dan
berhadapan dengan-Nya. Selain itu ia juga dapat diambil
sebagai hikmah bagi mempelajari pengajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala--.
Sebab itu, setelah peristiwa besar ini terjadi, kita harus
merenungi beberapa hal yang perlu diingat dan disedari sepenuhnya oleh setiap
muslim:
Pertama: Peristiwa ini dapat membimbing seorang muslim pada suatu perkara yang telah dia yakini akan menambahkan keimanan terhadap kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , serta meyakini bahawa Allah-lah yang mengatur alam ini menurut kehendak-Nya, dan memutuskan apa saja yang Ia inginkan. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak keputusan-Nya. Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- berfirman
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ
عَلَى أَن يَبْعَثَ
عَلَيْكُمْ
عَذَابًا
مِّن فَوْقِكُمْ
أَوْ مِن تَحْتِ
أَرْجُلِكُمْ
أَوْ يَلْبِسَكُمْ
شِيَعاً وَيُذِيقَ
بَعْضَكُم
بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ
الآيَاتِ
لَعَلَّهُمْ
يَفْقَهُونَ
Artinya: ’’ Katakanlah: Dialah yang berkuasa menghantar kepada kamu azab seksa (bala bencana), dari sebelah atas
kamu, atau dari bawah kaki kamu, atau Ia menjadikan kamu bertentangan
dan berpecah, dan Ia merasakan sebahagian daripada kamu akan
perbuatan ganas sebahagian yang lain.Perhatikanlah
bagaimana Kami menjelaskan
ayat-ayat keterangan dengan
berbagai cara, supaya mereka memahaminya”. (Surah
Al An’aam: 65).
Maksud dari "azab dari atas" dalam ayat tersebut boleh
diber contoh seperti petir, kilat yang boleh
menghancurkan, dan angin taufan. Ia juga bermaksud gempa
bumi dan tanah longsor.
Jabir bin Abdillah
--Radhiallahu anhu-- , berkata: Ketika Rasulullah --Shallallahu alaihi wa
Sallam-- membaca ayat:
beliau bersabda:
\"Aku
berlindung dengan wajah Allah yang mulia".
Dan
ketika membaca:
beliau bersabda:
beliau berkata: "Aku berlindung dengan wajah Allah
yang mulia". Dan ketika membaca:
beliau berkata: "Ini lebih ringan". (HR Bukhari).
Kemudian renungkanlah firman Allah --Subhaanahu wa
Ta'ala--
Sesungguhnya beraneka-ragamnya tanda-tanda kekuasaan Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala-- menuntun kita kepada
pemahaman, keimanan dan kembali kepada Allah --Subhaanahu wa Ta\'ala--.
Yakni: Agar mereka memahami tujuan yang harus mereka wujudkan dari
penciptaan mereka.
Kedua: Peristiwa ini menunjukkan salah satu tanda-tanda agung kekuasaan
Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--, yang dengannya Dia menimbulkan
rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya. Allah --Subhaanahu wa
Ta'ala-- berfirman:
بِالآيَاتِ
إِلاَّ تَخْوِيفًا
وَمَا نُرْسِلُ
Artinya: "Dan biasanya kami tidak menurunkan
tanda-tanda itu melainkan untuk menjadi amaran". (QS. Al Israa: 59).
Maksudnya; Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--
menimbulkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya dengan tanda-tanda yang agung
itu. Berkata Qatadah rahimahullah: "Sesungguhnya
Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- menakutkan manusia dengan tanda-tanda kekuasaan
yang Dia hendaki, agar mereka mengambil pengajaran, ingat bahawa mereka akan
kembali kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- ". Adapun penisbatan
peristiwa ini kepada alam, ia termasuk dalam
kejahilan. Maka hendaklah seseorang mukmin itu berasa takut, merenung dan
mengambil pengajaran; bahawa-Nya Yang telah menimpakan musibah kepada
saudara-saudaranya, Maha Kuasa untuk menimpakan hal yang serupa atau lebih
kepada mereka. 120 00 nyawa terkorban dalam satu waktu. Adakah di antara kita
yang mengambil hikmah dan pengajaran daripada apa yang
telah berlaku ini?
Ketiga: Setelah kejadian ini marilah kita renungi nikmat Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala-- berupaya menetapkan bumi,
sebagaimana firman-Nya:
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ
قَرَارًا
وَالسَّمَاء
بِنَاء
Artinya: "Allah-lah yang menjadikan untuk kamu tempat menetap, dan langit sebagai atap, ". QS Ghafir:
64. Maksudnya: tidak bergoncang-goncang atau bergetar
Mari kita renungi dari sini,
betapa besar zat yang memegang bumi ini, sehingga dia tetap dan tidak bergoncang
atau bergoyang. Bayangkan bagaimana jika bumi yang kita pijak ini selalu bergoncang dan
bergetar, bolehkah kita hidup di atasnya?, bolehkah kita tidur?, bolehkah kita bekerja? (tentu
jawabnya adalah: tidak). Jadi,
Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- telah melimpahkan kurnia-Nya kepada kita yang tenang
dan tetap pada posisinya. Maka hendaklah kita mengambil pengajaran dari nikmat
ini sambil
membandingkan
gempa yang diciptakan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--
dari waktu ke waktu; hingga kita dapat membuat kesimpulan: betapa besar kurnia-Nya untuk ketenangan bumi dan alangkah sempurnanya nikmat ini. Jika bumi ini bergoncang sekejap
saja, ia dapat memakan 120 ribu jiwa, bagaimana jika ia bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya.
Kurnia Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--
juga tidak meluapkan lautan hingga menenggelamkan semua daratan. Padahal kita tahu
bahwa luas lautan di muka
bumi ini dua pertiga luas daratan. Allah-lah yang Maha Kuasa untuk menahan air laut hingga tidak meluap ke daratan, padahal Dia mampu untuk
menenggelamkan seluruh daratan!.
Kita bisa ambil pengajaran dari sejarah:
إِنَّا لَمَّا
طَغَى الْمَاء حَمَلْنَاكُمْ
فِي الْجَارِيَةِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami, tatkala
air telah naik (sampai ke gunung) kami bawa (nenek moyang)
kamu ke dalam bahtera Nabi Hud. " QS Al Haqqah: 11.
Dari bencana yang baru saja terjadi , ia dapat menggambarkan kita hal itu; air telah menenggelamkan
berbagai daerah secara total, hingga semua yang
berada di atasnya mati, tidak tersisa seorangpun.
Dua kurnia ini; penetapan bumi dan tidak
meluapnya lautan ke daratan haruslah
kita syukuri, sembahi kita panjatkan
puji kepada-Nya atas segala curahan nikmat-Nya.
Keempat: Bumi
adalah milik Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--, Dia-lah
yang telah menciptakannya dan menjadikan apa yang ada sekarang. Dia yang menciptakan
manusia diatasnya. Maka Dia pula-lah yang berhak untuk bertindak atas kehendak-Nya.
Perhatikanlah sebahagian perbuatan Allah --Subhaanahu wa
Ta'ala-- terhadap bumi-Nya dalam
ayat:
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنقُصُهَا
مِنْ أَطْرَافِهَا
وَاللّهُ يَحْكُمُ لاَ مُعَقِّبَ
لِحُكْمِهِ
وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Artinya: “Mengapa mereka tidak mahu memerhatikan bahawa Kami sentiasa menakluk bumi dengan
menjadikannya kurang dari kebaikannya dan kemuliaannya? Dan Allah menghukum menurut kehendak-Nya dan tiada siapa yang dapat menghalang hukum-Nya, dan Dialah yang amat cepat hitungan hisab-Nya”. QS
Ar-Ra'd: 41.
Sebahagian ahli tafsir menerangkan bahawa
maksud dari "Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya"
adalah dengan tenggelamnya (sebagian bumi -pent),
gempa dan berbagai bencana. Jadi, Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala-- mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan kehendak-Nya, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya.
Jika kita sedar bahawa bumi ini adalah milik Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala-- , dan yang berhak untuk bertindak di alam-Nya adalah
Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- juga; maka mari kita
sama-sama merenungi apa hikmah di sebalik penciptaan
kita di atas muka
bumi ini?. Tidak lain dan tidak bukan dalam rangka menegakkan kalimah tauhid
Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- , mentaati perintah-Nya, mengikuti syariat-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, patuh terhadap perintah-Nya dan perintah
rasul-Nya --Shallallahu alaihi wa Sallam-- . Kita wajib
beriman terhadap ayat-ayat yang jelas,
hujjah-hujjah yang tinggi
serta dalil-dalil agung yang telah menjelaskan kesempurnaan Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- dan kewajipan untuk taat kepada-Nya lantas
mengikhlaskan ibadah hanya
untuk-Nya. Hingga kita dapat menjalankan tujuan
penciptaan kita dengan sempurna; iaitu menjalankan perintah-Nya dan
mengikuti rasul-Nya --Shallallahu alaihi wa Sallam--.
Kelima: Seharusnya seorang
muslim bersikap tenang
semasa menghadapi musibah yang ditimpa atau menimpa saudaranya; yakin dengan
mendekatkan diri kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- ,
yakin dan bertawakal
kepada-Nya. Sesungguhnya musibah itu dapat mengukuhkan
iman seorang mukmin, serta mengekalkan
hubungan baik dengan Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala-- , serta semakin
sempurna kedekatan dia dengan-Nya. Oleh kerana itu Rasulullah --Shallallahu alaihi wa Sallam-- bersabda:
Artinya: \"Alangkah mengagumkan kondisi seorang
mu\'min; seluruh perkaranya
adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan
nikmat, bersyukur, dan itu adalah merupakan
kebaikan baginya. Dan jika dia tertimpa
musibah, bersabar, itupun merupakan kebaikan baginya\". HR Muslim.
Dan hal ini tidak akan ada kecuali dalam
diri seorang mukmin.
Keenam: Sesungguhnya seorang
yang beriman akan sedar bahawa
musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah
akibat dosa-dosa kita sendiri. Tidaklah terjadi satu
malapetaka melainkan perbuatan dosa,
dan malapetaka itu tidak akan diberhentikan (oleh Allah --Subhaanahu wa Ta\'ala-- ) kecuali dengan taubat. Allah
--Subhaanahu wa Ta'ala-- telah menjelaskan:
فَكُلًّا أَخَذْنَا
بِذَنبِهِ
فَمِنْهُم
مَّنْ أَرْسَلْنَا
عَلَيْهِ
حَاصِبًا
وَمِنْهُم
مَّنْ أَخَذَتْهُ
الصَّيْحَةُ
وَمِنْهُم
مَّنْ خَسَفْنَا
بِهِ الْأَرْضَ
وَمِنْهُم مَّنْ
أَغْرَقْنَا
وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَكِن كَانُوا
أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: ” Maka masing-masing Kami binasakan dengan sebab dosanya, iaitu di antaranya
ada yang Kami hantarkan angin ribut menghujaninya
dengan batu;dan ada yang dibinasakan dengan letusan suara yang menggemparkan bumi; dan ada yang Kami timbuskan dia di
bumi;dan ada pula yang Kami
tenggelamkan di laut. Dan (ingatlah)
Allah tidak sekali-kali menganiaya
mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri”. QS. Al-\'Ankabut:
40.
Saat inilah seharusnya seorang mukmin mendekat diri kepada Allah --Subhaanahu wa
Ta'ala-- dengan membawa taubat
dan berserahkan diri kepada-Nya, sehingga dia dapat
mempelajari pengajaran dari musibah yang menimpa orang lain. "Sesungguhnya
orang yang bahagia adalah yang dapat memetik pengajaran dari (apa yang menimpa) saudaranya, orang yang rugi adalah jika saudaranyalah yang mengambil pelajaran dari apa yang menimpa
dirinya".
Ketujuh: Terakhir,
kita memiliki beberapa kewajiban terhadap saudara-saudara kita yang menimpa
musibah besar ini, di antaranya;
- Berdoa agar Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- meringankan penderitaan mereka, serta menjadikan
musibah ini sebagai titik tolak
bagi mereka untuk kembali kepada kebaikan dan bertaubat kepada-Nya. Kita juga
memohon agar Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--
menenangkan ketakutan mereka, menutupi aurat mereka
dan memberi rezeki orang-orang yang sedang kelaparan.
- Juga kita wajib untuk mengulurkan tangan membantu mereka dengan apa yang termampu. Saat ini ribuan orang sama
sekali tidak memiliki tempat tinggal, rumah, makanan dan minuman, sedangkan kita hidup dalam kenikmatan.
Bersyukurlah kepada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala--
atas nikmat dan kurnia-Nya, kemudian bantulah
saudara-saudara kita semampunya!.
Kami tutup khutbah
ini dengan sebuah doa agung dan berbarakah,
yang selalu dibaca oleh
Rasulullah --Shallallahu alaihi wa Sallam-- setiap malam
sebelum merebahkan tubuhnya di peraduan:
Artinya: \"Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak
orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi
dia serta memberi dia tempat tinggal\". HR Muslim dari Anas bin Malik
Ya Allah, muliakanlah
Islam dan kaum-kaum muslimin
3X, hinakanlah kesyirikan
dan kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami.
Ya
Allah, ringankanlah musibah yang menimpa
saudara-saudara kami di manapun mereka berada, kuatkanlah semangat mereka wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.
Ya
Allah, tenangkanlah rasa takut mereka, ubatilah
kelaparan dan dahaga mereka, tutupilah
aurat mereka, karuniakanlah
kepada mereka tempat tinggal yang baik, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, kembalikanlah
kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami taufik untuk
bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu
yang beriman dan mengikuti rasul-Mu
--Shallallahu alaihi wa Sallam-- , juga karuniailah kami wahai Yang Maha
Agung lagi Maha Pemurah taufik untuk mengerjakan hal-hal
yang Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk
melakukan kebaikan dan ketakwaan, janganlah
Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, meskipun
hanya sekelip mata.
Ya Allah, ampunilah
segala dosa kami, baik kecil mahupun yang besar, yang terdahulu
mahupun yang akan datang, serta yang tersembunyi mahupun yang terlihat.
Ya Allah, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, nescaya kami akan menjadi orang-orang yang rugi.
Hanya ini yang dapat kami sampaikan,
kami mohon keampunan dripada Allah --Subhaanahu wa Ta'ala-- untuk kita dan seluruh kaum muslimin
dari segala dosa, mintalah ampun kepada-Nya, nescaya Dia akan
ampuni. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
--------------------------------------------------------------------------------
(Ditranskrip dan diterjemahkan dari khutbah Jum\'at Syeikh. Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr, oleh: Anas Burhanuddin
dan Abdullah Zaen).