Makna Tauhid
Oleh : Ridwan Hamidi, Lc.
Sesungguhnya kaedah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang
paling besar; satu-satunya yang diterima dan diredhai Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepadaNya,
kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kejayaan dan pemelihara dari
berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi
seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para rasul dan para nabi
adalah IBADAH HANYA KEPADA ALLAH Subhaanahu Wa Ta'aalaa SEMATA TIDAK
MENYEKUTUKANNYA, bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah Subhaanahu
Wa Ta'aalaa, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma
(nama-nama) dan sifat-sifat Nya. Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa berfirman:
“Dan sesungguhnya
Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul: Hendaklah kamu
menyembah Allah dan jauhilah Taghut”. (QS An Nahl:
36)
“Dan Kami tidak
mengutus sebelummu seseorang Rasul pun melainkan Kami wahikan kepadanya Bahawa
sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Aku; oleh itu, beribadatlah kamu kepada-Ku.”
(QS Al Anbiyaa’ : 25)
“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.” (QS At-Taubah: 31)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari
syirik).” (QS Az Zumar: 2-3)
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”(QS Al Bayyinah: 5)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Orang yang
mahu mengetahui keadaan alam akan mendapati bahawa sumber kebaikan di muka bumi
ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa serta taat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Sebaliknya semua keburukkan di muka bumi ini; fitnah, musibah, kegiatan,
dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Orang yang
mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti
ini baik dalam dirinya mahupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25)
Kerana kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang
terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya)
untuk menghancurkan dan merusaknya.
Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid
itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.
Jika syaitan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syaitan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke
dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafaz (yang diucapkan manusia). Jika
masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan
ke dalam berbagai bidaah dan khurafat. (Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin
Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)
Setiap dakwah Islam yang baru muncul tidak dibangun di atas tauhid
yang murni kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan tidak menempuh jalan yang
telah dilalui oleh para salaful ummah yang salih, maka akan tersesat hina dan
gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika berhadapan dengan musuh, tidak
kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan (dengan berbagai rintangan).
Kita saksikan banyak contoh-contoh dakwah yang dicatat dalam
sejarah berbicara kenyataan yang menyedihkan ini dan akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung bertahun-tahun,
yang telah mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan kebinasaan.
Namun seorang mukmin yang yakin dengan janji Allah yang pasti
benar, tidak akan putus asa dan menjadi kendur, tidak akan gentar menghadapi
berbagai cubaan dan tidak akan menerima jika sekian banyak percubaan-percubaan
itu berlangsung silih berganti tanpa ada manfaat yang diambil atau jatuh ke
lubang yang sama untuk kedua kalinya. (Sebagaimana hadis dari sahabat Abu
Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim (no
2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)
Sudah ada teladan dan contoh yang paling bagus pada diri
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat.
(QS Al Ahzaab: 21)
Inilah manhaj pertama dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam
dalam berdakwah kepada tauhid, memulai dengan tauhid dan mendahulukan tauhid
dan semua urusan yang dianggap penting. (Diringkas dari Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin
Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 2-6)
(KEUTAMAAN TAUHID)
Berbicara tentang keutamaan tauhid sebenarnya terkandung unsur
kewajiban untuk bertauhid.
Sebab “tidak berarti bahwa adanya keutamaan pada sesuatu
berarti bahwa sesuatu itu tidak wajib, karena keutamaan merupakan hasil atau buah
yang ditimbulkan. Seperti sholat jama’ah yang telah jelas keutamaannya
dalam hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam:
“Solat jema’ah lebih utama daripada solat sendiri, dua puluh tujuh
darjat.” (HR Imam Bukhari
[Kitab Azan, bab Keutamaan Solat Jemaah] dan Imam
Muslim (Kitab Al Masajid [masjid-masjid], Bab Keutamaan Solat Jemaah) Keutamaan
yang ada pada solat jemaah ini tidak bererti bahawa solat jemaah ini tidak
wajib.
Jadi tidak selalu bererti bahawa ketika kita berbicara tentang
keutamaan tauhid bererti tauhid itu tidak wajib, sebab tauhid adalah kewajiban
yang paling pertama. Tidak
mungkin suatu amal akan diterima tanpa tauhid. Tidak
mungkin seorang hamba bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa tanpa tauhid. Sekaligus bahawa tauhid juga memiliki
keutamaan.
Faidah tauhid sangat banyak, diantaranya:
1.
Tauhid adalah paling utama yang
memberikan semangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa; sebab orang yang bertauhid akan beramal untuk
dan kerana Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik ketika ia sendiri mahupun ketika
bersama orang banyak. Sedangkan orang yang tidak bertauhid, misalnya seperti
orang yang riya`, ia hanya akan bersedekah, solat dan
berzikir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa kalau ada orang yang melihatnya.
Oleh kerana itu sebahagian ulama salaf mengatakan: Sesungguhnya saya sangat
ingin bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
dengan melakukan ketaatan yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa.
2.
Orang-orang yang bertauhid akan mendapatkan ketenangan dan petunjuk, sebagaimana firman
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa:
Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah
orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat
82)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang
yang memurnikan ibadah hanya kepada Nya semata yang tidak ada sekutu bagi Nya,
dan mereka tidak menyekutukan Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa sedikitpun dalam berbagai hal. Mereka itulah yang
akan mendapatkan keamanan pada hari Qiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia
dan akhirat.”
Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin
–hafizhalullah- mengatakan: Firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (Wahum
Muhtaduun; dan merekalah orang-orang yang mendapatkan hidayah) maksudnya di
dunia, (mendapatkan hidayah) menuju syari’at Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
dengan ilmu dan amal. Mendapat hidayah dengan ilmu adalah
hidayah irsyaad, sedangkan mendapat hidayah dengan amal adalah hidayah taufiq.
Mereka juga mendapatkan hidayah di akhirat menuju surga.
Hidayah di akhirat ini, untuk orang-orang yang zhalim (mereka
mendapatkan hidayah) jalan menuju neraka jahim, sebaliknya untuk orang-orang
yang tidak zhalim mendapat hidayah jalan menuju surga (yang penuh kenikmatan).
Banyak diantara ulama tafsir yang mengatakan tentang firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (أُولَئِكَ
لَهُمُ
الأَْمْنُ) mereka adalah
orang-orang yang mendapatkan rasa aman: Rasa aman itu di akhirat sedangkan
hidayah itu di dunia. Pendapat yang lebih tepat bahawa rasa
aman dan hidayah itu bersifat umum, baik di dunia mahupun di akhirat.”
Ketika ayat ini turun dirasakan berat oleh para sahabat
-radliyallaahu 'anhum-. Mereka
mengatakan: “Siapakah diantara kita yang tidak menzholimi dirinya sendiri ?” Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan: “Maksud ayat tersebut bukan seperti
yang kalian kira, yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik,
tidakkah kalian mendengar perkataan lelaki yang sholeh, Luqman:
“Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman
yang sangat besar.” (QS
Luqman: 13)
1)
Zholim yang paling besar yaitu syirik
dalam hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
2)
Zholim yang dilakukan seseorang terhadap
dirinya sendiri, dengan tidak memberikan haknya, seperti orang yang berpuasa
dan tidak berbuka, orang yang shalat malam terus dan tidak tidur.
3)
Zholim yang dilakukan seseorang terhadap
orang lain, misalnya memukul, membunuh, mengambil
harta dan lain-lain.
Jika tidak ada kezholiman maka akan
terwujud keamanan. Namun apakah keamanan yang smepurna ?
Jawabannya: jika imannya sempurna dan tidak dicampuri ma’shiyat
maka akan terwujud rasa aman yang mutlak (sempurna),
jika iamnnya tidak sempurna maka yang akan terwujud adalah rasa aman yang
kurang juga.
Contohnya: Orang yang melakukan dosa besar. Ia
akan aman dari ancaman tinggal kekal di neraka, tetapi tidak aman dari adzab
yang akan menimpa dirinya, tergantung kehendak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
(apakah diampuni atau di adzab?). Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa berfirman:
إن
الله لا يغفر
أن يشرك به
ويغفر ما دون
ذلك لمن يشاء
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari
syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS An Nisaa` ayat 116)
Ayat ini (QS Luqman ayat 13) Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa nyatakan sebagai pemutus antara Nabi Ibrahim 'alaihis salaam dengan
kaumnya ketika beliau mengatakan kepada mereka:
وكيف أخاف ما أشركتم ولا تخافون أنكم أشركتم بالله ما لم ينزل به عليكم سلطانا فأي الفريقين أحق بالأمن إن كنتم تعلمون
Bagaimana aku takut kepada
sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak
takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak
menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang
lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?”
(QS Al An’am: 81)
Kemudian Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
berfirman:
Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah
orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat
82)
Pembatal
ke-Islaman seseorang yang paling besar adalah syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Oleh karena itu kita temukan dalam al Qur`an
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa mengingatkan kita (agar
menjauhkan) syirik, orang-orang yang melakukan syirik dan akibat yang akan
mereka rasakan, dalam banyak ayat. Lafadz syirik dan bentukannya disebutkan
berulang-ulang dalam al Qur`an lebih dari 160 kali.
Demikian juga dalam sunnah, kita temukan sangat banyak
hadits-hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan
bahayanya.
PENGERTIAN SYIRIK
Menurut bahasa: Syirik adalah sebuah kata yang digunakan untuk
mengungkapkan sesuatu yang terjadi antara dua orang atau lebih.
Menurut istilah syar’i: Syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa maksudnya menjadikan sekutu bagi Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik dalam rububiyahnya ataupun uluhiyahnya, tetapi
istilah syirik lebih sering digunakan untuk syirik dalam uluhiyahnya.
Atau: menyamakan selain Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa dengan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam hal-hal yang menjadi hak
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
HUKUM SYIRIK
Syirik adalah
larangan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang paling
besar. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun.”
Syirik juga merupakan perbuatan haram yang pertama (harus
ditinggalkan). Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam
قُلْ
تَعَالَوْا
أَتْلُ مَا
حَرَّمَ
رَبُّكُمْ
عَلَيْكُمْ
أَلاَّ
تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا
أَوْلادَكُمْ
مِنْ
إِمْلاَقٍ نَحْنُ
نَرْزُقُكُمْ
وَإِيَّاهُمْ
وَلاَ تَقْرَبُوا
الْفَوَاحِشَ
مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ وَلاَ
تَقْتُلُوا
النَّفْسَ الَّتِي
حَرَّمَ
اللَّهُ
إِلاَّ
بِالْحَقِّ
ذَلِكُمْ
وَصَّاكُمْ
بِهِ
لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang
diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu
dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan
memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang
tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu
memahami (nya).”
PENGGUNAKAN KATA SYIRIK
Jika anda
mendapat istilah syirik dalam buku aqidah maka maksudnya bisa berarti syirik akbar atau syirik ashghar. Maka anda
jangan menghina orang-orang yang mendakwahkan tauhid bahwa mereka selalu
menghukumi segala sesuatu dengan syirik. Fahamilah
setiap ungkapan pada tempatnya yang tepat.
Oleh karena itu
anda perlu mengetahui bahwa syirik dalam pengertian syar’I digunakan untuk tiga
makna:
1.
Menyakini ada sekutu bagi Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam kekuasaan, rububiyah,
mencipta, memberi rizqi dan mengatur alam. Siapa yang meyakini bahwa ada orang
yang mengatur alam ini dan mengatur seluruh urusannya, maka ia
telah menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam rububiyah dan telah kafir
kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Dalil-dalil (argumen-argumen) yang
menunjukkan bathilnya keyakinan akan adanya dzat lain
selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang memiliki hak rububiyah sangat banyak
dan begitu jelas, baik dalil yang bisa kita saksikan dari alam ini maupun dalil
sam’i (al Qur`an dan as Sunnah). Diantaranya firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَلاَ فِي الأَْرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ
Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan)
selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan
di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit
dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu
bagi-Nya”.
Syirik jenis ini tidak terjadi pada semua orang kafir di zaman
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebagian mereka meyakini bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa adalah pencipta dan pengatur alam. Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat)
dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al Ankabut: 61)
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ
مَنْ نَزَّلَ
مِنَ السَّمَاءِ
مَاءً
فَأَحْيَا
بِهِ الأَْرْضَ
مِنْ بَعْدِ
مَوْتِهَا
لَيَقُولُنَّ
اللَّهُ قُلِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ بَلْ
أَكْثَرُهُمْ
لاَ
يَعْقِلُونَ
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka:
"Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu
bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan
menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah",
tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).” (QS Al Ankabut: 63)
2. Meyakini adanya zat selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang bisa
memberikan manfaat atau madlarat, dzat ini merupakan perantara antara Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan makhluk, maka sebahagian jenis ibadah ditujukan
padanya. Inilah yang dinamakan syirik dalam uluhiyyah.
Syirik inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang kafir
Quraisy. Mereka mengatakan tentang sembahan mereka
(mereka berkata): "Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya”. (QS Az Zumar: 3)
Inilah keyakinan yang tersebar di kalangan mereka, sebagaimana
friman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam
“Yang demikian itu adalah karena kamu
kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan,
maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha
Besar.”
Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa menceritakan keadaan mereka
dalam
وَعَجِبُوا
أَنْ
جَاءَهُمْ
مُنْذِرٌ
مِنْهُمْ
وَقَالَ الْكَافِرُونَ
هَذَا
سَاحِرٌ
كَذَّابٌ () أَجَعَلَ
الآْلِهَةَ
إِلَهًا
وَاحِدًا
إِنَّ هَذَا
لَشَيْءٌ
عُجَابٌ
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi
peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata:
"Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menceritakan
bahawa tauhid kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan meninggalkan syirik
adalah sebab diutusnya para rasul. Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa berfirman dalam
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah
Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku
seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”.
Syirik akan merosak dan menghapus semua
amal dan hal ini berlaku pada seluruh umat. Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa berfirman dalam
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)
yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah
amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
Oleh karena itu Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa memerintahkan (hamba-hamba Nya) untuk beribadah kepada Nya dan
melarang menyekutukan (syirik kepada) Nya dalam banyak ayat:
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An Nisaa` ayat 36)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,
(QS An Nahl ayat 36)
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لاَ تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ () وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan
kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagi kamu”. dan hendaklah kamu
menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yasiin
ayat 60-61)
3. Mempertimbangkan (dapat perhatian, pujian dan lain-lain) dari
selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam perkataan
maupun perbuatan. Adapun mempertimbangkan perhatian atau pujian dalam perbuatan
seperti riya yang dilakukan oleh orang yang rajin ibadah, misalnya ketika
shalat, ia panjangkan berdiri, ruku’ dan sujudnya kemudian ia tampakkan
kekhusyu’annya di hadapan orang banyak, ketika ia puasa, ia tampakkan bahwa
dirinya sedang puasa, misalnya dengan mengatakan: “Apa anda tidak tahu bahwa
hari ini Senin (atau Kamis) ?” “Apa anda tidak puasa ?” Atau ia katakan: “Hari ini saya undang anda untuk
berbuka puasa bersama ?” Demikian
pula haji dan jihad. Ia pergi haji dan jihad
tetapi tujuannya riya`.
Riyanya orang-orang yang cinta dunia seperti
orang yang angkuh dan sombong ketika berjalan, memalingkan mukanya atau
menggerakkan kendaraannya dengan gerakan khusus.
Riya` dengan teman atau orang yang berkunjung ke rumahnya, seperti
orang yang memaksakan diri meminta seorang ‘alim atau seorang yang dikenal ahli
ibadah untuk datang ke rumahnya agar dikatakan bahwa fulan telah mengunjungi
rumahnya, atau sebaliknya ia kunjungi mereka (orang-orang ‘alim dan ahli
ibadah) agar dikatakan bahwa kami telah mengunjungi fulan atau kami telah
bertemu dengan ‘alim fulan dan yang lainnya.
Sedang riya dengan perkata yang dilakukan oleh orang-orang ahli
agama seperti orang yang memberikan nasehat di majlis-majlis, kemudian ia
menghafal hadits-hadits dan atsar-atsar khusus untuk acara-acara tertentu agar
bisa berbicara dan debat dengan orang-orang, sehingga tampak di hadapan mereka
bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal tersebut, tampak di hadapan
mereka bahwa ia memiliki ilmu yang kuat dan perhatian yang besar terhadap
keadaan ulama-ulama salaf, tetapi ketika kita lihat di rumahnya bersama
keluarganya, ia adalah orang jauh dari keadaan tersebut. Contoh lain adalah
menggerak-gerakkan kedua bibir untuk berdzikir di hadapan orang banyak dan
menampakkan kemarahan terhadap kemunkaran di hadapan orang, tetapi ketika ia berada di rumah ia tidak mengingkari atau lalai melakukan
hal tersebut.
Semua perbuatan ini mengurangi
kesempurnaan tauhid dan ikhlas.
Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan tercelanya perbuatan
ini, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al
Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟ قال: قلنا: بلى, قال: الشرك الخفي أن يقوم الرجل يصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل.
“Maukah kalian saya beritahu tentang
perbuatan yang bagi saya itu lebih saya takuti daripada Al Masih Ad Dajjal? Kami katakan: Ya,” Ia berkata:
“Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Syirik khafiyy (yang
tersembunyi) yaitu seseorang mengerjakan shalat kemudian ia perbaiki shalatnya
karena ia mengetahui ada orang yang melihatnya.” (Menurut
Syaikh Al Albani rahimahullah hadits ini hasan. Shahih
Sunan Ibni Majah 2/310 hadits no 3389).
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam
juga bersabda:
“Siapa yang memperdengarkan
amalnya maka Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa akan
memperdengarkan (aibnya) dan siapa yang riya` maka Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
akan akan menampakkan (aibnya pada hari Qiamat.”
MACAM-MACAM SYIRIK
1.
Syirik Akbar.
Syirik ini terbagi menjadi dua:
1)
Syirik yang berkaitan dengan dzat Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa atau syirik dalam rububiyah
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Syirik ini terbagi lagi menjadi dua:
(1) Syirik dalam ta’thil, seperti syirik yang
dilakukan oleh Fir’aun dan orang-orang atheis.
(2) Syirik yang dilakukan oleh orang yang menjadikan sembahan lain
selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa tetapi tidak menafikan asma (nama-nama),
sifat-sifat dan rububiyah Nya, seperti syirik yang dilakukan oleh orang-orang
Nashrani yang menjadikan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sebagai salah satu dari
tiga Tuhan (trinitas).
2)
Syirik yang berkaitan dengan ibadah
kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa atau syirik dalam
uluhiyyah. Syirik ini ada empat jenis:
(1) Syirik dalam berdo’a; yaitu berdo’a kepada selain
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
(2) Syirik dalam niat, keinginan dan kehendak. Beramal karena
ditujukan kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
menyebabkan pahalanya hilang.
(3) Syirik dalam keta’atan; yaitu seorang hamba taat kepada makhluk
dalam perbuatan ma’shiyat kepada Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa.
(4) Syirik dalam mahabbah; yaitu seorang hamba mencintai makhluk
seperti cintanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
2.
Syirik Ashghar.
Syirik Ashghar terbagi menjadi dua:
1)
Yang Zhahir (tampak);
- mengerjakan amal dengan riya`. Melakukan perbuatan untuk
selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang zhahir (tampak)nya
untuk Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, tetapi dalam hatinya tidak ikhlas karena
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
-
dengan ucapan, seperti bersumpah dengan selain Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa, perkataan: Ma Syaa Allah wa Syi`ta.
2)
Yang Khafiyy (samar);
Yaitu sesuatu yang kadang-kadang, terjadi dalam perkataan atau
perbuatan manusia tanpa ia sadari bahwa itu adalah
syirik. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas
-radliyallaahu 'anhuma- bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Syirik bagi umatku lebih halus (samar)
dari pada barjalannya semut di atas batu yang licin (hitam).” (Hadits ini dishahihkan oleh Syekh Al Albani dalam Shahih Al
Jami’ Ash Shaghir, hadits no 3730 dan 3731)
Karena begitu halusnya syirik ini
sehingga para sahabat bertanya pada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam
bagaimana caranya terhindar dari syirik ini? Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam bersabda: Katakanlah (Bacalah) oleh kalian semua
اللهم
إنا نعوذبك من
أن نشرك بك
شيئا نعلمه
ونستغفرك لما
لا نعلمه
“Ya Allah, kami berlindung kepada Mu
dari perbuatan (kami) menyekutukan Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami
memohon ampunan kepada Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui.” (HR Imam Ahmad 4/403 dan Ath Thabrani dalam
Mu’jam Kabir dan Ausathnya sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami 10/223-224.
Al Haitsami mengatakan: Rawi-rawinya Imam Ahmad adalah rawi-rawi shahih selain
Abu Ali dan ia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban).
(Disarikan dari buku Syarh Nawaqidhit
tauhiid, tulisan Syekh Abu Usamah Hasan bin Ali Al ‘Awaji, Maktabatul Liinah,
cet pertama, 1993-1413)