Tuesday, February 7th 2012  
Home | Quran | Hadith | Aqidah | Fiqh | Tasawwuf | Sejarah | Perundangan | Lexicon | Politik | Sastera | Komuniti
Quran Index
 Senarai Surah
 Tafsir Quran
 Huraian Ibn Kathir
 Bacaan ayat-ayat suci
Hadith Index
 Sahih Muslim
 Sahih Bukhari
 40 Hadis Qudsi
Ibadah Index
 Solat
 Puasa
 Zakat
 Haji & Umrah
Islamic Scholars
Al-Khawarizmi
Saiyid Abdullah Al-Ghadamsi
Syeikh Utsman Syihabuddin
Tengku Muhammad al-Fathani
Link
 Islamic Finder
 Projek myMasjid
 Harun Yahya
 Islamweb.net
 Radio Ikim.fm
 Al Islam
 Sound Vision.com
 Alahazrat.Net
 Albalagh
 Al Muhaddith
 Yusof Uslam
 Islamic-World.Net
 IslamicCity.Com
 
Search
PANDUAN PUASA RAMADHAN
PANDUAN PUASA

                                                      

PANDUAN PUASA RAMADHAN

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

DOA-DOA HARIAN BULAN RAMADHAN

PUASA SUNAT SYAWAL

RINGKASAN PERSEDIAAN MENGHADAPI BULAN RAMADHAN

PERMASALAHAN SOLAT TERAWIH DAN PENYELESAIAN MUKTAMAD KEPADA PERSELISIHAN DAN KEJAHILAN

 

 

 

PANDUAN PUASA RAMADHAN

Oleh: Ustadz Abu Rasyid


MUQADDIMAH


Artinya: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya ( ikuti aku).   (H.R Ahmad).


Artinya : Dirwayatkan dari 'Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak ( tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak.
(HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).



Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari'at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.


Sabda Rasul saw. :

"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada' . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa ( dalam berusaha ) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila ( bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yangjika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. " ( HR. Hakim ).


Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. "Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid'ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan ) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid'ah" ( HR. Ahmad ).


Jadi, ketika amalan bid'ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid'ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh.

Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan

sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting. Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah puasa ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid'ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.


Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah puasa Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat 'Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih ( jelas ). Dalil - dalil dan KESIMPULAN dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti. Amien.



I. MASYRU'IYAT DAN MATLAMAT PUASA RAMADHAN.


                                يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى

                                                الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

1. "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( QS Al-Baqarah : 183 ).


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ

وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ

فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ

أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

تَشْكُرُونَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ


2.
Bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Qur'an, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk, dan perbezaan (antara yang benar dan yang salah). Oleh itu, sesiapa di antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan maka hendaklah ia berpuasa dan sesiapa yang sakit atau dalam musafir (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjuk-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.  ( Al-Baqarah: 185).


3. " Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas
lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad ituadalah utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat puasa di bulan Ramadhan Menunaikan haji ke Ka'bah. ( HR.Bukhari Muslim ).


4. "Diriwayatkan dari Thalhah bin ' Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda : Puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. ".

KESIMPULAN : Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita dapat mengambil pelajaran :


1. puasa Ramadhan hukumnya Fardu ‘Ain ( dalil 1, 2, 3 dan 4 ).

2. puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan (dalil no 1).


II. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).


2. "Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat 'Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah      ( dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan." (Riwayat Ahmad dan Nasai )



3. " Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum'at sampai Shalat Jum'at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi." ( H.R.Muslim)


4. "Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Puasa dan Qur'an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari

Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula AL-Qur'an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat." ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).


5. "Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut " Rayyaan".

Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim).


6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary/Muslim).


KESIMPULAN : Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :


1
. Bulan Ramadhan adalah:

Bulan yang penuh Barakah.
Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).


2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa't. Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).

III. CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN

1. "Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa." ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).


2. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru'yah dan berbukalah ( akhirilah puasa Ramadhan ) dengan melihat ru'yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya'ban selama Tiga Puluh hari. "( HR. Bukhary/Muslim).



KESIMPULAN

Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru'yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil ( dapat dipercaya ). Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya'ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. ( dalil 1 dan 2).


Pada dasarnya ru'yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ' Ala Minhaajinnabiy sudah tegak ( dalil 2 ). Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru'yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini hanya pendapat sebagian ulama).


IV. RUKUN PUASA

                           
لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ


1. "...dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar.”( AL-Baqarah :187).


2. "Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (...hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam...), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benang putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. Dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). " ( H.R. Bukhary Muslim).

                                              
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

                                      وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ


3. "Allah Ta'ala berfirman : "Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar.”  ( Al-Bayyinah :5)


4. "Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan." ( H.R Bukhary dan Muslim).


5. "Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya ." (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.



KESIMPULAN:


Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:

a. Berniat sejak malam hari ( dalil 3,4 dan 5).

b. Menahan makan, minum, koitus (Jima') dengan isteri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ( Maghrib), ( dalil 1 dan 2).


V. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN.

                                            
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى

                                              الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


1. "Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang yang terdahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa." ( Al-Baqarah : 183)


2. "Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena ( kewajiban syar'i/ taklif) dari tiga golongan .

- Dari orang gila sehingga dia sembuh - dari orang tidur sehingga bangun - dari anak-anak sampai ia bermimpi / dewasa." ( H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).



KESIMPULAN


Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.


VI. YANG DILARANG PUASA


1. "Diriwayatkan dari 'Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat "( H.R Bukhary Muslim).


KESIMPULAN

Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.


VII. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN

1. "(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Qur'an, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk, dan perbezaan (antara yang benar dan yang salah). Oleh itu, sesiapa di antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan maka hendaklah ia berpuasa dan sesiapa yang sakit atau dalam musafir (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjuk-Nya, dan supaya kamu bersyukur.  " ( Al-Baqarah:185.)


2. "Diriwayatkan dari Mu'adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka DIA turunkan ayat ( dalam
surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain ( AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah ( keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa. " ( HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).


3. "Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda : Hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta'ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya " ( H.R.Muslim)


4. "Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa ." ( H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).


5. "Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang puasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang puasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik"

(HR. Ahmad dan Muslim)



6. "Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka." (HR.Tirmidzy).

7. "Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin " ( Riwayat Abu Dawud ). Shahih


8.
"Diriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya isterinya bertanya kepadanya ( tentang puasa Ramadhan ), sedang ia dalam keadaan hamil. Makaia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa ." (Riwayat Baihaqi) Shahih.

9. "Diriwayatkan dari Sa'id bin Abi 'Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadhan. Beliau berkata : Keduanya boleh berbuka (tidak puasa ) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa" (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syaratMuslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).


KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah : Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.


Orang yang bepergian ( Musafir ). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:

Umurnya sangat tua dan lemah
.


Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. ( dalil 2,7,8 dan 9).

VIII HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

                    لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ


1. "...dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar ), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam..." ( Al-Baqarah : 187).


2. "Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum " (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama'ah kecuali An-Nasai).

3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa - maka tidak wajib qadha ( puasanya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( puasanya batal ). ( H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh ( datang bulan ) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )



5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa ( Ramadhan ) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. ( H.R : Abu Daud ) hadits shahih.

6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa ( Ramadhan ), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya        ( Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )


KESIMPULAN

Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa                ( Ramadhan ) ialah sbb :


Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa.         ( dalil : 2 )


Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa. ( dalil :3 )
Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6 )


Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.( dalil : 7 )


Datang bulan di siang hari Ramadhan ( sebelum waktu masuk Maghrib ).( dalil : 4 )


IX. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA.

1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )


2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas. ( H.R : Ahmad, Malik dan Abu Daud )


3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa.         (H.R : Al-Bukhary ) .


4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium ( isterinya ) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh ) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. ( H.R : Al-Jama'ah kecuali Nasa'i) hadits shahih.

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa. ( H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat (Muslim ).


6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq ( menghisap air ke hidung ) keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. ( H.R :Ashhabus Sunan )


7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya ( Ahmad dan Al-Bukhary ).



KESIMPULAN


Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa :

Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.


Menta'khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1 )


Berbekam pada siang hari. ( dalil : 3 )


Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.( dalil 4 dan 5 )
Beristinsyak ( menghirup air kedalam hidung )terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya.                  ( dalil : 6 )


Disuntik di siang hari. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)


ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN.


1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka.                      ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia ( ummat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.  ( H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem )


4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi )

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo'a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. ( H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan )

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R : Al-Bukhary )

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma'di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. ( H.R : An-Nasa'i )

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat ( Shubuh ). saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya ( antara waktu sahur dan waktu Shubuh )?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. ( H.R : Al-Baihaqi )


11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya ( makan/minum sahur )daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem )



12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di'iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r.a menjawab : ya, lalu ia meminumnya. ( H.R Ibnu Jarir )


13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur'an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan( cepat berbuat kebaikan ) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary )

14. Diriwayatkan dari
Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam ) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. ( H.R : Jama'ah )

15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir ( bulan Ramadhan ) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah ) dan membangunkan istrinya ( agar beribadah ) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )


16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir ( di bulan Ramadhan ) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. ( H.R : Muslim )


17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka'at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya :Beliau shalat empat raka'at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka'at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. ( H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya )

18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka'at yang ringan, kemudian shalat delapan raka'at, kemudian shalat witir. ( H.R : Muslim )

19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata :
Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka'at dua raka'at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka'at. ( H.R : Jama'ah)


20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau ( bermakmum di belakang ), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang
menghalangi aku untuk keluar kepada kalian ( untuk mengimami shalat ) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

21. Dari Ubay bin Ka'ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A'la dan ( Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad ). ( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i dan Ibnu Majah )

22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : ( artinya ) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. ( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. ( H.R :Jama'ah )


24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R : Muslim )



25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, ( ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia ( lailatul qadar ) pada malam-malam ganjil. ( H.R : Muslim )

26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah ( artinya ) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad )

27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )


28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila hendak beri'tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i'tikafnya.......... ( H.R :Jama'ah kecuali At-Tirmidzi )

29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri'tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia ( buang air, mandi dll...) ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

                                   فِي الْمَسَاجِدِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ


30. Allah ta'ala berfirman : ( artinya ) Janganlah kalian mencampuri mereka( istri-istri kalian ) sedang kalian dalam keadaan i'tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati...( Al-Baqarah : 187 )

31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji , jangan berteriak-teriak                       ( pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : " sesungguhnya saya sedang puasa" . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. ( H.R: Jama'ah Kecuali Muslim ) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.


33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya ) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi : Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. ( H.R :Muslim)

34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan ) setingkat dengan haji. ( H.R : Muslim)


KESIMPULAN

Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. ( dalil: 6 ) Sunnah berbuka adalah sbb :

Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. ( dalil: 2,3 dan 4 )


Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. ( dalil : 6 )


Setelah berbuka berdo'a dengan do'a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. ( dalil: 5 )


2. Makan sahur. ( dalil : 7 dan 8 ) Adab-adab sahur :

a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10 )

b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. ( dalil 11 dan 12 ) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi'in.

3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur'an ( dalil : 13 )

4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama'ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir( 20 hb. sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16 ) Cara shalat Tarawih adalah :
Dengan berjama'ah. ( dalil : 19 )


Tidak lebih dari sebelas raka'at yakni salam tiap dua raka'at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka'at. ( dalil : 17 )

 
Dibuka dengan dua raka'at yang ringan. ( dalil : 18)


Bacaan dalam witir : Raka'at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka't kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka'at ketiga : Qulhuwallahu ahad. ( dalil : 21 )


Membaca do'a qunut dalam shalat witir. ( dalil 22 )


5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. ( dalil : 25 dan 26 )

6. Mengerjakan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27 )

Cara i'tikaf :

a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i'tikaf di masjid. ( dalil 28 )

b. Tidak keluar dari tempat i'tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak. ( dalil : 29 )

c. Tidak mencampuri istri dimasa i'tikaf. ( dalil : 30)

7. Mengerjakan umrah. ( dalil : 33 dan 34 )

8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32 )

Maraji’ (Daftar Pustaka):

1. Al-Qur’anul Kariem

2. Tafsir Aththabariy.

3. Tafsir Ibnu Katsier.

4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.

5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.

6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.

 

 

Sumber: MyUitm.com

Diedit: HAR

Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

Masalah 1: Ada sepuluh hal yang dapat membatalkan puasa: (1) makan, (2) minum, (3) senggama, (4) melakukan masturbasi, (5) berbohong terhadap Allah, Rasulullah, dan para pengganti beliau as, (6) memasukkan debu yang tebal (baca: kasar) ke dalam tenggorokan, (7) memasukkan seluruh kepala ke dalam air, (8) berada dalam keadaan jenabah, haid, dan nifas hingga azan Subuh tiba, (9) suntikan dengan menggunakan bahan yang cair, dan (10) muntah. Hukum semua itu akan dijelaskan pada pembahasan berikut ini.

1. Makan dan Minum

Masalah 2: Jika seseorang yang sedang berpuasa sengaja makan atau minum, maka puasanya adalah batal, baik makanan dan minuman itu adalah sesuatu yang biasa dimakan dan diminum, seperti roti dan air mahupun tidak biasa, seperti tanah dan air perasan pohon, dan baik sedikit mahupun banyak. Seandainya ia membasahi sehelai benang dengan air liurnya, lalu ia memasukkanya kembali ke dalam mulutnya dan menelan air liur yang terdapat di benang tersebut sekalipun, maka puasanya adalah batal; begitu juga air yang terdapat di sikat gigi, kecuali jika air tersebut (bercampur dengan) air liur sedemikian rupa sehingga tidak boleh dikatakan bahwa itu adalah air yang berasal dari luar mulut, (maka puasanya tidak batal). Begitu juga, menelan sisa-sisa makanan yang terdapat di celah-celah gigi dapat membatalkan puasa.

Masalah 3: Jika orang yang sedang berpuasa makan atau minum kerana lupa, maka puasanya tidak batal.

Masalah 4: Orang yang sedang berpuasa harus menghindari penggunaan ubat yang biasa digunakan sebagai ganti dari makanan. Akan tetapi, tidak ada masalah melakukan suntikan ubat yang digunakan untuk mematirasakan sebuah anggota tubuh atau untuk pengubatan.

Masalah 5: Jika ia tahu bahawa azan Subuh sudah tiba ketika ia sedang makan, maka ia harus mengeluarkan sisa makanan yang masih berada di dalam mulutnya, dan jika ia sengaja menelannya, maka puasanya adalah batal, serta sesuai dengan penjelasan yang akan dipaparkan nanti ia juga wajib membayar kifarah.

Masalah 6: Jika orang yang sedang berpuasa merasa sangat haus sehingga ia khuwatir akan meninggal dunia, maka ia dapat minum air sekadar yang dapat menyelamatkannya dari kematian. Akan tetapi, puasanya adalah batal. Jika bulan itu adalah bulan Ramadhan, maka dalam sisa hari itu ia harus menghindari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa dan mengqadanya (setelah Ramadhan).

Masalah 7: Seseorang yang ingin melakukan puasa, tidak wajib ia menyelah-nyelahi giginya (dengan benang gigi, misalnya). Akan tetapi, jika ia tahu bahawa sisa makanan yang terdapat di di celah-celah gigi akan tertelan, dalam hal ini apabila ia tidak menyelah-nyelahinya, maka puasanya adalah batal, dan tidak berbeza apakah ada sisa makanan yang tertelan atau tidak.

Masalah 8: Menelan air ludah meskipun yang terkumpul di dalam mulut kerana membayangkan rasa kecut dan yang semisalnya tidak membatalkan puasa.

Masalah 9: Tidak ada masalah menelan air liur yang berasal dari kepala dan dada selama ia belum masuk ke dalam rongga mulut. Akan tetapi, jika air liur itu telah masuk ke dalam rongga mulut, maka berdasarkan ihtiyâth wajib orang yang berpuasa jangan menelannya.

Masalah 10: Mengunyah makanan untuk anak kecil atau merasa masakan dan sebagainya (dengan tujuan untuk mengetahui apakah ramuan sudah sebati atau belum) yang biasanya tidak sampai kepada batas kerongkong tidak dapat membatalkan puasa, meskipun masakan itu sampai ke kerongkong tanpa sengaja. Akan tetapi, jika dari permulaan ia tahu bahawa kunyahan dan masakan itu akan sampai ke kerongkong, dalam hal ini apabila masakan dan kunyahan itu tertelan, maka puasanya adalah batal dan ia harus mengqadanya, serta wajib juga baginya untuk membayar kifarah.

Masalah 11: Orang yang sedang berpuasa tidak boleh membatalkan puasanya kerana tubuh lemah. Akan tetapi, jika kelemahan tubuhnya itu sampai pada suatu batas yang biasanya tidak dapat ditahan lagi, maka tidak ada masalah membatalkannya.

2. Senggama

Masalah 12: Senggama, baik yang dilakukan dari jalur depan mahupun belakang dan baik (dilakukan oleh) anak kecil mahupun orang besar, dapat membatalkan puasa orang yang melakukan senggama, baik pelaku mahupun objek, meskipun kemaluannya hanya masuk sekadar sampai pada batas khatan dan air spermanya tidak keluar. Jika kemaluannya masuk kurang dari batas khatan tersebut dan air sperma tidak keluar, maka maka puasanya tidak batal.

Masalah 13: Jika seseorang lupa bahawa ia sedang berpuasa dan melakukan senggama, ia melakukannya dalam keadaan tidur, atau ia dipaksa untuk melakukannya sekiranya hak untuk memilih tercabut darinya, maka puasanya tidak batal. Akan tetapi, jika ia sadar dan ingat kembali di pertengahan senggama (bahawa ia sedang berpuasa) atau ia tidak dipaksa lagi, maka ia harus segera menghentikan senggama, dan jika tidak, maka puasanya adalah batal.

Masalah 14: Jika seseorang ragu apakah kemaluannya sudah masuk hingga sekadar batas khatan atau belum, maka puasanya adalah sah. Seseorang yang kemaluannya terputus hingga batas khatan, jika ia ragu apakah sudah terjadi senggama atau belum, maka puasanya adalah sah.

3. Masturbasi

Masalah 15: Jika seseorang yang sedang berpuasa melakukan masturbasi, iaitu melakukan sesuatu terhadap dirinya sehingga air spermanya keluar, maka puasanya adalah batal. Jika air sperma di luar kehendaknya keluar dari dirinya, maka puasanya tidak batal. Akan tetapi, jika ia melakukan sesuatu sehingga di luar kehendaknya air sperma keluar dari dirinya, maka puasanya adalah batal.

Masalah 16: Jika seseorang yang sedang berpuasa tahu bahawa apabila ia tidur di siang hari, ia akan mengalami mimpi basah, iaitu air spermanya akan keluar ketika ia tidur kerana bermimpi, maka diperbolehkan ia tidur, dan jika ia tidur dan mengalami mimpi basah, maka puasanya adalah sah, khususnya jika tidak tidur siang dapat menyebabkan kesulitan (faraj) baginya.

Masalah 17: Seseorang yang sedang berpuasa dan mengalami mimpi basah dapat melakukan kencing dan istibrâ' sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi, jika ia telah melakukan mandi besar dan ia tahu bahawa sisa air sperma yang masih tersisa di saluran kencingnya akan keluar dengan ia kencing atau melakukan istibrâ', maka berdasarkan ihtiyâth wajib tidak boleh ia melakukan istibrâ'. Jika orang yang sedang berpuasa bangun dari tidurnya ketika air spermanya sedang keluar, maka tidak wajib ia mencegah keluarnya air sperma tersebut.

Masalah 18: Seseorang yang sedang berpuasa dan telah mengalami mimpi basah, jika ia tahu bahawa air sperma masih tersisa di dalam salurannya dan apabila ia tidak kencing sebelum melakukan mandi, air sperma itu akan keluar setelah melakukan mandi, maka yang lebih baik adalah hendaknya ia kecing sebelum melakukan mandi.

Masalah 19: Jika dengan tujuan untuk mengeluarkan air sperma ia melakukan sesuatu terhadap dirinya, dalam hal ini apabila air spermanya tidak keluar, maka puasanya tidak batal.

Masalah 20: Jika orang yang sedang berpuasa bermain dan bercanda dengan seseorang tanpa ada tujuan supaya air spermanya keluar dan air spermanya keluar (secara kebetulan), dalam hal ini apabila ia memiliki kebiasaan bahawa dengan bermain dan bercanda tersebut air spermanya selalu keluar, maka puasanya adalah batal, dan apabila ia tidak memiliki kebiasaan bahawa hanya dengan tindakan-tindakan semacam itu air spermanya keluar dan secara kebetulan sekarang air sperma itu keluar, maka puasanya juga batal, kecuali hatinya mantap bahawa air spermanya tidak akan keluar (hanya dengan tindakan-tindakan semacam itu).

4. Berbohong Terhadap Allah dan Rasul-Nya

Masalah 21: Jika orang yang sedang berpuasa sengaja berbohong terhadap Allah, Rasulullah, dan para pengganti beliau dengan menggunakan ucapan, tulisan, isyarat, dan lain sebagainya, maka puasanya adalah batal, meskipun (setelah itu) ia langsung mengaku telah berbohong atau bertobat. Dan berdasarkan ihtiyâth wajib, seluruh nabi dan para pengganti mereka, serta Sayidah Fathimah az-Zahra' as juga memiliki hukum yang sama.

Masalah 22: Jika ia ingin menukil sebuah hadis yang tidak diketahuinya apakah hadis itu adalah benar atau bohong, maka ia jangan menukilnya dengan pasti (bahawa hadis itu berasal dari mereka). Akan tetapi, seandainya ia menginformasikan hadis tersebut secara pasti sekalipun, maka puasanya tidak batal, meskipun ia memiliki sangkaan atas kebohongan atau kemungkinan bohongnya hadis tersebut.

Masalah 23: Jika ia menukil suatu firman atau sabda dari Allah dan Rasulullah saw dengan keyakinan bahawa firman dan sabda itu adalah benar, dan setelah itu ia baru tahu bahawa semua itu adalah bohong, maka puasanya tidak batal.

Masalah 24: Jika ia tahu bahawa berbohong terhadap Allah dan Rasulullah saw dapat membatalkan puasa dan ia menisbatkan firman dan sabda yang ia ketahui sebagai firman dan sabda bohong (baca: paslu) kepada mereka, dan setelah itu ia baru tahu bahawa apa yang telah disampaikannya itu adalah betul, maka puasanya adalah sah.

Masalah 25: Jika ia sengaja menisbatkan kebohongan yang telah dibuat oleh orang lain kepada Allah dan Rasulullah saw, serta para pengganti beliau, maka puasanya adalah batal. Akan tetapi, jika ia hanya menukil ucapan orang yang telah menciptakan kebohongan tersebut, maka puasanya tidak batal.

Masalah 26: Jika seorang yang sedang berpuasa ditanya apakah Rasulullah saw bersabda pernah bersabda demikian dan yang semestinya ia harus menjawab tidak dengan sengaja ia mengatakan ia atau yang semestinya ia harus menjawab ia dengan sengaja ia mengatakan tidak, maka puasanya adalah batal.

Masalah 27: Jika ia mengatakan sebuah firman Allah atau sabda Rasulullah yang benar, lalu ia mengatakan bahawa ia telah berbohong, atau di malam hari ia berbuat kebohongan kepada mereka berdua dan di siang ketika sedang berpuasa ia mengatakan bahawa segala yang telah dikatakannya tadi malam adalah betul demikian, maka puasanya adalah batal.

 

5. Memasukkan Debu yang Tebal (Baca: Kasar) ke Dalam Tenggorokan

Masalah 28: Memasukkan debu yang kasar ke dalam tenggorokan dapat membatalkan puasa, baik debu dari sesuatu yang dapat dimakan, seperti tepung mahupun debu dari sesuatu yang tidak dapat dimakan, seperti tanah.

Masalah 29: Berdasarkan ihtiyâth wajib, orang yang sedang berpuasa jangan memasukkan wap air yang tebal, asap rokok, tembakau, dan yang sejenisnya ke dalam tenggorokannya.

Masalah 30: Jika ia tidak berhati-hati sehingga debu, wap air, asap, dan yang sejenisnya masuk ke dalam kerongkong, dalam hal ini apabila (sebelumnya) hatinya mantap bahawa semua itu tidak akan masuk ke dalam kerongkongnya, maka puasanya adalah sah. Jika ia lupa sedang berpuasa sehingga tidak berhati-hati atau tanpa sengaja debu dan yang sejenisnya itu masuk ke dalam kerongkongnya, maka hal itu tidak ada masalah.

6. Memasukkan Kepala ke Dalam Air

Masalah 31: Jika orang yang sedang berpuasa sengaja memasukkan seluruh kepalanya ke dalam air, maka berdasarkan ihtiyâth wajib puasanya adalah batal, meskipun tubuhnya berada di luar air. Akan tetapi, jika seluruh tubuhnya berada di dalam air dan sebagian kepalanya berada di luar air, maka puasanya tidak batal.

Masalah 32: Jika ia memasukkan setengah kepalanya sekali dan memasukkan setengah kepalanya yang lain pada kali berikutnya, maka puasanya tidak batal.

Masalah 33: Jika ia ragu apakah seluruh kepalanya telah masuk ke dalam air, maka puasanya adalah sah.

Masalah 34: Jika seluruh kepalanya telah masuk ke dalam air, maka puasanya adalah batal, meskipun sebahagian rambutnya masih berada di luar air.

Masalah 35: Berdasarkan ihtiyâth wajib, orang yang sedang berpuasa jangan memasukkan kepalanya ke dalam air yang mudhâf, seperti perasan air bunga. Akan tetapi, tidak ada masalah (memasukkan kepala) ke dalam suatu yang cair (selain air).

Masalah 36: Jika orang yang sedang berpuasa jatuh ke dalam air tanpa sengaja dan seluruh kepalanya masuk ke dalam air atau ia lupa kalau sedang berpuasa dan memasukkan kepalanya ke dalam air, maka puasanya tidak batal.

Masalah 37: Jika dengan terjatuh ke dalam air, biasanya kepalanya akan masuk ke dalam air, dalam hal ini apabila ia dengan menyedari hal tersebut menjatuhkan dirinya ke dalam air dan kepalanya masuk ke dalam air, maka berdasarkan ihtiyâth wajib puasanya adalah batal.

Masalah 3: Jika ia lupa kalau sedang berpuasa dan memasukkan kepalanya ke dalam air atau orang lain memasukkan kepalanya ke dalam air secara paksa, dalam hal ini apabila di dalam air ia ingat sedang berpuasa atau orang tersebut melepaskan tangannya, maka ia harus langsung mengeluarkan kepalanya (dari dalam air), dan jika tidak mengeluarkannya secara langsung, maka berdasarkan ihtiyâth wajib puasanya adalah batal.

Masalah 39: Jika ia lupa kalau sedang berpuasa dan ia memasukkan kepalanya ke dalam air dengan niat mandi (wajib), maka puasa dan mandinya adalah sah.

Masalah 40: Jika ia tahu sedang berpuasa dan sengaja memasukkan kepalanya ke dalam air dengan niat mandi (wajib), dalam hal ini apabila puasanya adalah puasa wajib (yang memiliki waktu pelaksanaan) tertentu, seperti puasa bulan Ramadhan, maka berdasarkan ihtiyâth wajib ia harus mengulangi mandinya dan berdasarkan ihtiyâth wajib pula ia harus mengqada puasa tersebut, dan apabila puasa itu adalah puasa sunah atau puasa wajib yang tidak memiliki waktu (pelaksanaan) tertentu, seperti puasa kafarah, maka mandinya adalah sah dan puasanya berdasarkan ihtiyâth wajib adalah batal.

Masalah 41: Jika dengan tujuan menyelamatkan orang dari tenggelam ia memasukkan kepalanya ke dalam air, maka berdasarkan ihtiyâth wajib puasanya adalah batal, meskipun menyelamatkan orang tersebut adalah wajib baginya.

7. Berada dalam Kondisi Junub, Haidh, dan Nifas hingga Azan Shubuh Tiba

Masalah 42: Seseorang yang ingin melaksanakan puasa Ramadhan atau melaksanakan qadanya tidak boleh dengan sengaja berada dalam kondisi junub hingga azan Subuh tiba. Atas dasar ini, jika ia sengaja tidak melakukan mandi wajib dan ketika waktu sudah sempit pun tidak bertayamum, maka puasanya adalah batal. Sengaja berada dalam kondisi junub untuk puasa-puasa yang lain, baik puasa wajib mahupun puasa sunah tidak membatalkannya.

Masalah 43: Jika pada waktu ingin melakukan puasa Ramadhan atau qadanya ia tidak melakukan mandi dan tayamum hingga azan Subuh tiba, tapi semua itu tidak dilakukan kerana unsur kesengajaan, seperti seseorang menahannya sehingga ia tidak dapat melakukan mandi dan tayamum, maka puasanya adalah sah.

Masalah 44: Seseorang yang sedang junub dan ia ingin melakukan puasa Ramadhan atau qadanya, jika sengaja ia tidak melakukan mandi sehingga waktu sempit, maka ia dapat melakukan puasa dengan melakukan tayamum dan puasanya adalah sah.

Masalah 45: Jika orang yang junub pada bulan Ramadhan lupa tidak melakukan mandi dan ia ingat itu setelah beberapa hari, maka ia harus mengqada puasa beberapa hari (yang ia lupa tidak melakukan mandi tersebut). Jika ia ingat setelah beberapa hari (dan tidak tahu berapa hari dirinya junub), maka ia hanya mengqada puasa beberapa hari yang ia yakin telah dijalaninya dalam kondisi junub. Misal, jika ia tidak tahu apakah dirinya junub selama tiga hari atau empat hari, maka ia harus mengqada puasa tiga hari saja.

Masalah 46: Seseorang yang tidak memiliki waktu untuk melakukan wuduk dan tayamum di malam hari bulan Ramadhan, jika ia menjunubkan diri, maka puasanya adalah batal, dan di samping itu, wajib juga baginya untuk mengqada dan membayar kafarah. Akan tetapi, jika ia hanya memiliki waktu untuk bertayamum, dalam hal ini apabila ia menjunubkan diri, maka puasanya adalah sah dengan menggunakan tayamum, dan ia tidak dihitung berdosa.

Masalah 47: Seseorang yang junub di malam bulan Ramadhan dan ia tahu bahawa jika ia tidur, maka ia tidak akan bangun hingga Subuh, tidak boleh ia tidur, dan jika ia tidur dan (ternyata) tidak bangun hingga Subuh, maka puasanya adalah batal. (Di samping itu), wajib juga baginya untuk mengqada dan membayar kafarah.

Masalah 48: Orang junub yang tidur di malam bulan Ramadhan dan bangun (di pertengahan malam), apabila ia memberikan kemungkinan akan bangun kembali untuk melakukan mandi setelah tidur lagi, maka ia dapat tidur kembali dengan syarat ia menurut kebiasaannya tidak akan terlelap tidur (hingga azan Subuh).

Masalah 49: Orang yang junub di malam bulan Ramadhan dan ia tahu atau memberikan kemungkinan akan bangun tidur sebelum Subuh setelah ia tidur (lagi), dalam hal ini jika ia berniat untuk melakukan mandi setelah bangun tidur dan ia tidur dengan niat tersebut, tetapi ia terlelap tidur hingga Subuh, maka puasanya adalah sah.

Masalah 50: Orang yang junub di malam bulan Ramadhan dan ia tahu atau memberikan kemungkinan akan bangun sebelum Subuh setelah ia tidur, dalam hal ini jika ia lalai bahawa setelah bangun tidur ia harus mandi, lalu ia tidur dan terlelap tidur hingga azan Subuh, maka puasanya adalah sah.

Masalah 51: Orang yang junub di malam bulan Ramadhan dan ia tahu atau memberikan kemungkinan akan bangun sebelum Subuh setelah ia tidur (lagi), dalam hal ini jika ia tidak ingin melakukan mandi setelah bangun tidur atau bimbang apakah melakukan mandi atau tidak, lalu ia tidur dan tidak bangun (hingga azan Subuh), maka puasanya adalah batal.

Masalah 52: Orang junub yang tidur di malam bulan Ramadhan dan bangun (di pertengahan malam), jika ia tahu atau memberikan kemungkinan akan bangun sebelum azan Subuh setelah ia tidur lagi dan ia juga berniat untuk mandi setelah bangun tidur, dalam hal ini apabila ia tidur lagi dan tidak bangun hingga azan Subuh, maka ia harus mengqadha puasa hari itu. Begitu juga (hukumnya) jika ia bangun dari tidur kedua dan tidur lagi untuk kali ketiga. Dan berdasarkan ihtiyâth wajib, kafarah juga wajib pada tidur ketiga.

Masalah 53: Seseorang yang mengalami mimpi basah dalam sebuah tidur, tidur tersebut tidak dihitung sebagai tidur pertama. Jika ia bangun dari tidur tersebut dan tidur kembali, maka tidur (terakhir) ini dihitung sebagai tidur pertama.

Masalah 54: Jika orang yang berpuasa mengalami mimpi basah di siang hari, tidak wajib ia langsung melakukan mandi, meskipun berdasarkan ihtiyâth mustahab, hendaknya ia langsung melakukan mandi.

Masalah 55: Jika seseorang bangun tidur setelah azan Subuh pada bulan Ramadhan dan mendapatkan dirinya telah mengalami mimpi basah, maka puasanya adalah sah, meskipun ia tahu telah mengalami mimpi basah tersebut sebelum azan Subuh.

Masalah 56: Seseorang yang ingin melakukan qada puasa Ramadhan, jika ia berada dalam kondisi junub hingga azan Subuh tiba, maka puasanya adalah batal, meskipun hal itu terjadi tanpa sengaja.

Masalah 57: Seseorang yang ingin melakukan puasa qada bulan Ramadhan, jika ia bangun dari tidur setelah azan Subuh dan mendapatkan dirinya telah mengalami mimpi basah, serta ia tahu bahwa mimpi itu terjadi sebelum azan Subuh, dalam hal ini apabila waktu qada puasa itu telah sempit, seperti ia memiliki puasa qada selama lima hari dan hanya tersisa lima hari hingga bulan Ramadhan, maka berdasarkan ihtiyâth wajib ia harus melakukan puasa (qada) pada hari itu dan juga setelah bulan Ramadhan, dan apabila waktu puasa Ramadhan tidak sempit, maka ia harus berpuasa di hari yang lain.

Masalah 58: Jika seseorang mengalami mimpi basah ketika sedang berpuasa di bulan Ramadhan, ia dapat melakukan istibrâ' sebelum melakukan mandi (wajib). Akan tetapi, setelah melakukan mandi wajib tidak boleh ia melakukan istibrâ' apabila ia tahu bahawa (sisa) air spermanya akan keluar (dengan itu).

Masalah 59: Jika di dalam puasa sunah atau puasa wajib selain Ramadhan dan qadhanya seseorang berada dalam kondisi junub hingga azan Subuh, maka puasanya adalah sah, baik waktu puasa itu tertentu maupun tidak tertentu.

Masalah 60: Jika seorang wanita suci dari darah haid atau nifas sebelum azan Subuh dan ia sengaja tidak melakukan mandi wajib atau tidak bertayamum apabila tugasnya adalah tayamum, maka puasa Ramadhan atau qadanya (yang ingin dilakukannya itu) adalah batal, dan berdasarkan ihtiyâth mustahab, dalam puasa-puasa wajib dan sunah lainnya hendaknya hal ini juga diperhatikan.

Masalah 61: Jika seorang wanita suci dari darah haid atau nifas sebelum azan Subuh dan ia tidak memiliki waktu untuk melakukan mandi wajib, dalam hal ini apabila ia ingin melakukan puasa Ramadhan, maka dengan bertayamum puasanya adalah sah, dan tidak perlu ia bangun menunggu hingga azan Subuh tiba. Dan apabila tidak ada waktu juga untuk melakukan tayamum, maka dengan kondisi seperti itu sekalipun puasanya adalah sah.

Masalah 62: Jika seorang wanita suci dari darah haid atau nifas setelah azan Subuh atau di pertengahan hari ia mengalami darah haid atau nifas, maka puasanya adalah batal, meskipun hal itu terjadi mendekati waktu Maghrib.

Masalah 63: Jika seorang wanita lupa tidak melakukan mandi wajib haid atau nifas dan ia baru ingat setelah satu atau beberapa hari, maka puasanya selama itu adalah sah, dan berdasarkan ihtiyâth mustahab hendaknya ia mengqada seluruh puasa itu.

Masalah 64: Jika seorang wanita suci dari darah haid atau nifas dan ia teledor dalam melakukan mandi wajib sehingga sampai azan Subuh tiba ia tidak melakukan mandi dan pada sempitnya waktu ia juga tidak bertayamum, maka puasanya di bulan Ramadhan adalah batal. Akan tetapi, jika ia tidak teledor, seperti ia menunggu supaya tiba giliran kaum wanita menggunakan kamar mandi umum, maka puasanya adalah sah, meskipun ia telah tidur sebanyak tiga kali dan hingga azan Subuh ia belum melakukan mandi wajib dengan syarat ia bertayamum (dalam sempitnya waktu).

Masalah 65: Jika wanita yang sedang mengalami darah istihâdhah telah melakukan mandi sesuai dengan penjelasan yang telah dipaparkan pada pembahasan hukum darah istihâdhah, maka puasanya adalah sah.

Masalah 66: Seseorang yang telah menyentuh tubuh mayat dapat berpuasa tanpa ia harus melakukan mandi kerana menyentuh mayat (terlebih dahulu), dan jika ia menyentuh mayat ketika sedang berpuasa sekalipun, puasanya tidak batal.

8. Injeksi

Masalah 68: Injeksi dengan menggunakan bahan-bahan yang cair dapat membatalkan puasa, meskipun hal itu dilakukan kerana terpaksa dan untuk pengubatan. Akan tetapi, tidak ada masalah menggunakan ubat-ubatan yang padat, seperti supositori, yang digunakan untuk tujuan pengubatan. Tetapi, berdasarkan ihtiyâth mustahab, hendaknya ubat-ubatan semacam ini juga dihindari. Dan berdasarkan ihtiyâth mustahab juga, hendaknya orang yang sedang berpuasa menghindari penggunaan ubat-ubatan yang kepadatan dan kecairannya diragukan.

9. Muntah Dengan Sengaja

Masalah 69: Jika orang yang berpuasa sengaja muntah, maka puasanya adalah batal, meskipun ia terpaksa melakukan itu karena sakit dan yang sejenisnya. Akan tetapi, jika ia muntah kerana lupa atau di luar kehendaknya, maka hal itu tidak ada masalah.

Masalah 70: Jika ia memakan sesuatu di malam hari dan ia tahu di luar kehendaknya akan muntah di siang hari karena makanan itu, maka berdasarkan ihtiyâth wajib puasanya adalah batal.

Masalah 71: Jika orang yang berpuasa dapat mencegah diri dari muntah, maka ia harus mencegahnya asalkan hal itu tidak berbahaya (dharar) dan menyebabkan kesulitan (masyaqqah) bagi dirinya.

Masalah 72: Jika lalat masuk ke dalam kerongkong orang yang berpuasa, dalam hal ini apabila lalat itu sudah masuk terlalu ke dalam sehingga menelannya tidak dapat disebut sebagai makan, maka tidak perlu ia mengeluarkannya dan puasanya adalah sah, dan apabila lalat itu tidak sampai masuk terlalu ke dalam seperti itu dan mungkin untuk mengeluarkannya, maka ia harus mengeluarkannya. Dan jika mengeluarkannya itu menyebabkan ia muntah, maka puasanya adalah batal.

Masalah 73: Jika ia menelan sesuatu kerana lupa dan sebelum sampai di dalam perut ia ingat kalau sedang berpuasa, dalam hal ini apabila sesuatu itu telah masuk terlalu ke dalam sehingga memasukkannya ke dalam perut tidak dianggap sebagai makan, maka tidak wajib ia mengeluarkannya dan puasanya adalah sah, dan apabila sesuatu itu hanya sampai di pertengahan atau permulaan tenggorokan, maka ia harus mengeluarkannya, dan mengeluarkan sesuatu yang telah masuk di pertengahan atau permulaan kerongkong itu tidak dapat dikatakan muntah.

Masalah 74: Jika orang yang berpuasa yakin bahwa dengan bersendawa sesuatu akan keluar dari kerongkongnya, maka tidak boleh ia sengaja bersendawa. Akan tetapi, jika ia tidak yakin, maka hal itu tidak ada masalah.

Masalah 75: Jika ia bersendawa dan sesuatu keluar ke dalam kerongkong atau mulutnya tanpa sengaja, maka ia harus mengeluarkannya. Apabila ia masuk kembali tanpa sengaja, maka hal itu tidak ada masalah, dan berdasarkan ihtiyâth mustahab hendaknya ia juga mengqada.

Sumber:  http://lankarani.com/and/res/t47.html

 

 
 
 
Your use of the web site is subject to and constitutes acceptance of the Terms of Use and Privacy Statement.
Copyright © 2005 Ashtech Holdings Sdn Bhd. All rights reserved.